Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengunjung Malioboro Keluhkan Pengamen Keliling

Editor Content • Jumat, 9 Juni 2023 | 15:31 WIB
IKUT JADI SASARAN: Kafe Legian yang berada di pojok depan gedung DPRD DIJ terbakar menyusul kerusuhan kemarin.( YUWANTORO WINDUAJIE/RADAR JOGJA )
IKUT JADI SASARAN: Kafe Legian yang berada di pojok depan gedung DPRD DIJ terbakar menyusul kerusuhan kemarin.( YUWANTORO WINDUAJIE/RADAR JOGJA )
RADAR JOGJA - Pengunjung di kawasan Malioboro Jogja mengeluhkan banyaknya pengamen. Hal ini karena banyak pengamen berkeliling dan menghampiri pengunjung dalam waktu singkat, sehingga mengganggu kenyamanan mereka yang sedang santai di semipedestrian Malioboro.

Dari pantauan Radar Jogja  kemarin (8/6), Malioboro tidak pernah sepi oleh pengunjung. Wisatawan dari berbagai daerah tetap menjadikan kawasan ikonik  ini satu di antara destinasi yang wajib dikunjungi saat berada di Jogja. Pelancong dari kalangan muda hingga tua menikmati dan bersantai di Malioboro.

Aniisa, salah seorang pengunjung saat ditemui di lokasi  mengaku sudah dari pukul 09.00 berada di Malioboro. Ia memang memilih berlibur ke Jogja dari Solo, karena sudah libur sekolah. Perempuan 18 tahun ini memilih Jogja karena lokasinya yang relatif dekat dari Solo.

Ia mengakui selama di Malioboro belum menemukan pengamen yang berkeliling. Namun, menurutnya, adanya pengamen yang berkeliling membuatnya tidak nyaman. "Mengganggu. Lebih baik pengamen itu beralat musik stand (berdiri) di suatu tempat aja, terus nyediain untuk kotak itu,"  katanya kepada Radar Jogja kemarin (8/6).

Pengunjung lainnya, Zahra, 18 menganggap pengamen yang berkeliling cukup mengganggu. Namun selama di Malioboro dari pagi, ia belum didatangi pengamen. "Lumayan (mengganggu, Red). Mungkin kaya manggung di kafe-kafe atau gimana gitu, mencari pekerjaan yang lebih di tempat lain," tuturnya.

Sementara itu, pelancong dari Jakarta Habil Rahmatullah mengaku keberadaan pengamen keliling cukup terganggu. Tetapi, ia tidak terlalu mengambil pusing. Hal itu karena mengamen adalah sebuah pekerjaan dan untuk mendapatkan penghasilan.

Habil baru kali pertama itu ke Jogja bersama istrinya untuk bulan madu. Menurutnya, memilih Malioboro karena belum pernah dan tempatnya unik. Namun, selama beberapa hari ke Malioboro ia mengakui sering didatangi pengamen.

"Banyak pengamen. Agak terganggu sih, cuma biasa aja. Jakarta juga sama begitu," ungkapnya. Ia tidak mempermasalahkan pengamen selama tidak usil, dalam arti mengganggu saat sedang bersantai di semipedestrian Malioboro.

Selama tidak meresahkan, kata Habil, tidak masalah. Ini karena ia memang tinggal di Jakarta yang juga banyak pengamen kala sedang nongkrong di suatu tempat yang banyak keramaian. (cr3/laz)

Sering Kucing-kuncingan dengan Petugas

Pengamen di kawasan Malioboro mulai meresahkan. Jumlahnya cukup banyak. Bahkan ada yang memaksa meminta uang kepada wisatawan.

Kondisi ini membuat citra Jogja sebagai kota pariwisata menjadi kurang baik. Beberapa wisatawan mengeluh bukan karena nilai uangnya. Namun pengamen terus-terusan datang silih beranti. Ada yang terkadang tidak pergi jika belum dikasih.

Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Jogja Ekwanto mengakui banyak laporan soal keberadaan pengamen yang keliling ini. Operasi telah ditingkatkan.  "Akhir-akhir ini agak tinggi. Kami tingkatkan intensitas operasi juga," tegasnya kemarin (8/6).

Ia sepakat kondisi ini menganggu citra Kota Jogja. Keluhan yang tinggi mengarah pada jumlah pengamen. Dia mencontohkan, misalnya ada tiga orang duduk, maka semuanya dimintai oleh pengamen. Pengamen tidak pergi jika tiga orang yang duduk tersebut belum memberi.

"Udah dikasih, tapi masih minta juga. Biasanya yang seperti itu indikasi minum (beralkohol, Red) dia. Udah langsung kami minta keluar. Tak ada ampun kalau kayak gitu," jelasnya.

Ekwanto menyebut personel jaga sudah tidak kurang-kurang. Namun ada pola para pengamen kucing-kucingan dengan para petugas.

Misalnya saat pergantian apel petugas, para pengamen datang di jam tersebut. Karena ada kekosongan petugas. Dan setelah petugas datang, mereka lari meski ada juga yang bertahan dan segera diminta pergi.

"Ketika jam-jam ditinggal apel pukul 16.00. Kan kosong Malioboro, mereka masuk, kucing-kucingan," ujarnya.

Pengamen kerap dikejar petugas. Para pengamen biasanya lari ke arah Pasar Beringharjo. Kalau tertangkap, gitar dan alat yang digunakan langsung diambil.

Setidaknya ada 40 hingga 50 petugas jaga setiap harinya dengan tiga shift selama 24 jam. Mereka patroli dari Tugu Golong Giling hingga Titik Nol Kilometer Jogja.

Ada pun para pengamen sendiri, Ekwanto menyebut ada yang berasal dari Jogja, namun tak sedikit yang dari luar kota. Biasanya pengamen luar kota datangnya musiman. "Kami operasi bersama dengan Satpol PP. Kita memnimalisasi agar tidak marak," tambahnya. (lan/laz) Editor : Editor Content
#pengamen #Malioboro