Dedikasi terhadap dunia seni tari benar-benar dijalani oleh Shinta Restu Wibawa. Meski kesehariannya sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, perempuan 30 tahun ini tetap semangat menjadi pengajar tari bagi ratusan anak didiknya.
IWAN NURWANTO, Bantul, Radar Jogja
Hobi merupakan salah satu hal yang mendasari Shinta mendedikasikan dirinya terhadap seni tari. Awalnya, ia hanya menekuni tari bersama teman-temannya. Namun seiring berjalannya waktu, hasrat untuk berbagi ilmu seni gerak pun diwujudkan dengan membuka sanggar.
Shinta Art Dance merupakan sanggar yang didirikan Shinta. Melalui tempat itu ia mengajari seni tari kepada murid-muridnya. Hingga saat ini ia telah memiliki sekitar 300 murid yang dibagi dalam beberapa kelas. Dari jenjang anak-anak TK hingga bangku perkuliahan.
Mencari untung dari sanggar bukan jadi hal yang diinginkan Shinta. Sebab pada tahun pertama berdirinya sanggar, ia mengaku tidak menarik biaya sama sekali terhadap muridnya. Kemudian di tahun kedua, para siswa cukup membayar Rp 15 ribu untuk empat kali pertemuan.
"Untuk sekali pertemuan para siswa cukup membayar Rp. 3.750 atau Rp 15 ribu per empat kali pertemuan. Itu pun hanya untuk biaya administrasi saja," ujar Shinta kemarin (16/5).
Wanita yang lahir dan besar di Kalurahan Mulyodadi, Bambanglipuro, Bantul, ini mengaku dalam mengembangkan seni tari, khususnya tradisional, banyak tantangan yang harus dihadapi. Derasnya modernisasi adalah salah satunya.
Karena itu, melalui sanggar miliknya, Shinta berkomitmen untuk terus mengenalkan seni tari tradisional ke kancah internasional. Agar kemudian orang-orang di luar negeri pun bisa turut menikmati, bahkan mencintai tari khas Indonesia.
Ia menyebut, pelestarian seni tari tradisional di dalam negeri sangat penting dilakukan. Namun apabila seni tari tradisional hanya dikenal di negeri sendiri, tentu itu tidak cukup. Oleh karenanya perlu upaya agar seni tari asal Nusantara bisa dikenal di kancah dunia.
Namun untuk mewujudkan hal itu, pengajar tari harus bisa membuat bagaimana tari tradisional bisa disajikan sedemikian rupa. Lalu, kemudian disukai oleh orang-orang mancanegara.
Ia membeberkan, dalam seni tari tradisional sejatinya tidak hanya mempelajari gerakan-gerakannya saja. Namun juga harus ada berbagai pakem serta pesan moral dari tarian. Dan itu yang wajib ditanamkan oleh pengajar kepada murid-muridnya.
"Yang saat ini jadi tantangan pelaku seni, khususnya tari, adalah bagaimana membuat bule suka dengan budaya kita. Membuat penonton mengikuti gerakan dan paham apa yang kita sampaikan melalui tarian," tandas Shinta. (laz) Editor : Editor Content