RIZKY WAHYU, Sleman, Radar Jogja
Sebut saja namanya Priyangono. Saat menerima Radar Jogja yang bertamu di rumahnya, lelaki berambut gondrong dengan tato melingkar di leher dan dua lengannya ini tampak santai dengan kaus oblong dan bersarung.
Ia kini menikmati kehidupan sehari-hari alam pedesaan Dusun Pringen, Widodomartani, Ngemplak, Sleman. Kesehariannya adalah mengurus puluhan anak titipan di Panti Asuhan Darul Qolbi yang didirikan. Itu dilakukan setelah ia hijrah, mengakhiri dunia hitam di Kota Semarang.
Diakui dulunya senang berkelahi, mabuk-mabukan dan memalak uang orang-orang untuk bersenang-senang. Dari situ ia berpikir dan menemukan titik balik kehidupannya. Ia mengaku kehidupan seperti itu tidak ada gunanya bagi dirinya, maka ia memutuskan pensiun dari preman.
"Lingkungan saya dulu di Semarang seperti itu, banyak yang masuk penjara. Itu membuat saya berpikir kalau saya terus-teruskan, maka saya juga akan mengalami hal tersebut," kata Pak Pri, demikian ia biasa disapa.
Ia pun memutuskan pindah ke Jogja untuk kos dan jualan soto. Di tengah-tengah berjualan soto, ia tiba-tiba mempunyai keinginan untuk membangun panti asuhan. Hal pertama dilakukan adalah menggambar desain panti dan ditempel di ruangannya. Setiap ia melihat gambar itu, ia selalu berdoa agar cita-citanya bisa terkabul.
Setelah 1,5 tahun rutin berdoa meminta kepada Tuhan agar bisa membangun panti asuhan, akhirnya harapan itu terkabul. Meski ia saat itu baru mampu membeli tanahnya.
Setelah membeli tanah, ia memutuskan pindah dan tinggal bersama mertuannya yang juga berada di Jogja. Pada saat itu ia sudah mempunyai delapan anak yang sudah dirawatnya di rumah mertuanya.
"Jadi dulu awalnya di rumah mertua saya. Dulu tidurnya di ruang tamu, nanti paginya dibersihkan dan mereka berangkat sekolah," ungkapnya
Pada 2013 ia berhasil merintis Panti Asuhan Darul Qolbi hingga sekarang. Dikatakan, untuk membangun panti itu dari nol dan sedikit demi sedikit ia mengumpulkan uang. Sekarang ada 30 anak yang diasuhnya di panti asuhan itu. Beberapa anak asuhnya ada yang masih duduk di bangku TK dan SD. Tapi juga ada yang sudah kuliah.
Diceritakan saat awal mengasuh, ia merasakan keterikatan yang mendalam dengan seorang anak. Suatu ketika ada seorang ibu muda yang menitipkan anak bayinya ke panti. Dengan senang hati, ia menerima anak tersebut.
Setiap malam, selama satu bulan Pak Pri menimang bayi itu dengan penuh kasih sayang. Sang bayi kerap menangis, tapi ketika berada di gendongannya bisa tenang dan tidur. Tak jarang saat menimang bayi itu ia ikut tertidur.
Tetapi setelah itu bayi itu diminta lagi oleh orang tuannya, pada saat itu Pak Pri mengaku merasa sangat-kehilangan. Ada rasa khawatir terhadap anak itu hingga membuatnya stres.
Setelah momen itu ia sadar bahwa semua anak yang dititipkan di pantinya, suatu saat orang tua atau saudaranya akan datang dan meminta kembali. Ketika anak sudah beranjak dewasa, mereka juga akan menempuh dan memilih jalan hidupnya sendiri.
Baginya, mengasuh anak itu tidaklah mudah. Ada saja hal yang membuatnya kepikiran dengan anak-anak. Namun, sejak awal mendirikan panti itu Pak Pri selalu melibatkan anak-anak asuhnya untuk mencoba mengelola usaha sendiri.
Maka tidak heran jika berkunjung ke panti itu, terdengar banyak suara kambing. Juga terlihat banyak tanaman serta alat-alat dapur, di mana itu adalah usaha Pak Pri untuk anak-anak asuhnya ketika tidak sedang sekolah.
"Anak-anak di sini juga terlibat untuk ternak kambing, belajar membikin tanaman bonsai. Dan yang putri sekarang tengah belajar memasak usus untuk belajar usaha mandiri," tuturnya.
Menurutnya itu latihan untuk mereka supaya bisa hidup mandiri di kemudian hari. Ia ia mempunyai prinsip bahwa dirinya tak punya kontribusi apa-apa bagi kehidupan anak-anak asuhnya. Ia hanyalah perantara dari rezeki yang sudah Tuhan gariskan untuk mereka.
Kini dia juga mempunyai cita-cita untuk membangun yayasan untuk pantinya. Ia mengatakan baru menyicil untuk membeli tanah yang akan dijadikan kantor yayasan.
"Saya bahagianya Darul Qolbi ini mempunyai manfaat tidak hanya untuk saya, tapi juga teman-teman yang main dan tinggal di sini. Darul Qolbi seperti magnet yang selalu mendatangkan orang-orang baik," tandasnya. (laz) Editor : Editor Content