Andre, sapaannya, memilih untuk menghadirkan kedai kopi dengan konsep tempo dulu. Pembuatan kopi dilakukan secara manual mulai dari proses roasting hingga brewing. Tak hanya itu, daftar lagu-lagu yang diputar menggunakan toa juga semakin menghadirkan kesan nostalgia. Andre memilih untuk menempatkan kedai kopinya di tengah pasar. Sesuai dengan namanya yakni di Pasar Sepeda Tunjungsari, Umbulharjo, Kota Jogja. Tujuannya, supaya kopi bisa menjangkau hingga semua kalangan.
"Kami memberikan konsep vintage. Masyarakat bisa merasakan kopi yang sebenernya. Bisa ngopi tapi di pasar. Di Jogja belum banyak konsep seperti ini. Kebanyakan ada di Vietnam dan banyak diadaptasi di Malang," jelasnya, Rabu (26/4).
Tak hanya konsep tempat, makanan dan minuman di kedai Toendjoeng Djaja juga terbilang autentik. Ada kopi tubruk robusta hingga arabica. Bahkan ada juga kopi liberica yang didatangkan langsung dari Gunung Lawu. Ini sekaligus menjadi salah satu pembeda kedai Toendjoeng Djaja dengan kedai kopi lainnya.
"Ada juga menu-menu jaman dulu seperti es limun kopi moka dan es sarsaparila ala tahun 90-an. Sekarang sudah jarang sekali. Konsepnya memang mix and match antara warmindo, warung kopi, dan angkringan," jelasnya.
Tersedia juga berbagai macam menu makanan. Mulai dari nasi pecel, nasi omelete, hingga nasi telur ala warmindo. Soal harga, Andre sengaja mematok dengan harga yang terjangkau, supaya menu-menu di Toendjoeng Djaja bisa dinikmati oleh semua kalangan. Untuk menu minuman dibanderol mulai Rp 3 ribu untuk es teh, Rp 5 ribu untuk menu kopi tubruk, dan minuman non-kopi yang hanya dibanderol mulai belasan ribu. Sementara menu makanan hanya dibanderol mulai dari Rp 8 ribu.
"Biar kopi tidak hanya menyerang kalangan atas. Dan seperti tukang becak atau tukang sapu pasar sering mencoba menu di sini. Kalau tidak ada kami, mungkin mereka untuk mencicipi pun merogoh kocek yang lumayan," ungkapnya. (isa/ila) Editor : Administrator