Langgar Agung Pangeran Diponegoro di Dusun Kamal, Desa Menoreh, Salaman diapit oleh bangunan sekolah. Berdiri megah di atas tanah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang. Bahkan, bangunan tersebut sudah ditetapkan menjadi cagar budaya pada 1972 setelah dipugar dan diresmikan pengabdiannya. Kini, masjid itu difungsikan sebagai tempat ibadah untuk para santri maupun masyarakat setempat.
Masjid itu dulunya hanya berupa musala kecil dan terbuat dari bambu. Berukuran kurang lebih 4x4 meter. Konon katanya, musala tersebut digunakan oleh Pangeran Diponegoro untuk bersemedi. “Kalau bahasa dulu itu semedi, sekarang namanya mujahadah. Sedangkan prajurit beliau ada di gua pahlawan. Tapi, lidah orang Jawa menyebutnya gua lawa,” jelas pengelola masjid KH Achmad Nurshodiq, beberapa waktu lalu.
Dia bercerita, ketika Pangeran Diponegoro berada di musala tersebut, para tentara Belanda disebut tidak bisa memasuki kawasan itu. Saat perang Gerilya yang dilancarkan oleh Pangeran Diponegoro, membuat Belanda kewalahan. Karena terkenal licik, Belanda memutar otak untuk bisa menangkap Pangeran Diponegoro.
Akhirnya, Belanda meminta seorang yang bergelar demang atau kepala daerah dari Menoreh untuk membujuk Pangeran Diponegoro agar mau berunding. Dengan imbalan, fasilitas apapun yang diminta oleh demang, akan dipenuhi. Dengan bujuk rayu yang dilakukan demang, Pangeran Diponegoro bersedia berunding di Karesidenan Kedu.
Prajurit yang turut serta bersama Pangeran Diponegoro, dilucuti senjatanya oleh Belanda. Kemudian, menangkap Pangeran Diponegoro dan merumahkannya agar tidak bisa keluar kemana-mana. Bahkan, musala kecil yang digunakan untuk semedi, dihancurkan oleh Belanda. Pangeran Diponegoro pun marah hingga membuat meja maupun kursi di musala itu meninggalkan bekas akibat pukulannya.
Musala yang sudah dihancurkan oleh Belanda habis tak tersisa. Dinding yang berupa bambu juga dibakar. Hanya tersisa tanah saja. “Beliau sabda, siapa saja yang jadi kepala daerah di Menoreh, tidak akan merasakan keselamatan atau kenikmatan. Meskipun ada yang mengatakan mitos, tapi saya sudah menelitinya, ternyata memang benar. Terlepas itu mitos atau tidak,” ujarnya.
Setelah Indonesia merdeka, Pemkab Magelang bersama sejumlah tokoh masyarakat di Menoreh melakukan rapat besar. Dalam rapat tersebut, ada usulan untuk membuat batu yang bertuliskan sejarah Pangeran Diponegoro hingga pembuatan patung Pangeran Diponegoro menaiki kuda. Namun, masyarakat Menoreh mengusulkan untuk dibangun masjid.
Atas inisiasi tersebut, akhirnya pemkab menyepakatinya untuk membangun kembali musala tersebut. Namun, pembangunan itu tidak persis berada di tengah-tengah, meskipun halamannya luas. Nurshodiq mengatakan, hal itu karena disesuaikan dengan tempat semedi Pangeran Diponegoro. Yang kini dimanfaatkan sebagai tempat imam.
Namun, pembangunan masjid tersebut sempat terkendala akibat peristiwa G30S PKI sekitar 1965. Setelah kondisi dan situasi aman, pembangunan kembali dilanjutkan. Kemudian, dilakukan rapat lagi untuk memutuskan penamaan masjid tersebut. Hingga diputuskan dengan nama ‘Langgar Agung Pangeran Diponegoro’.
Selain itu, ada peninggalan lain dari Pangeran Diponegoro. Yakni berupa kitab suci Alquran yang disinyalir merupakan tulisan tangan Pangeran Diponegoro. Lengkap 30 juz, dari Surat Al Fatihah hingga An Naas. Lantaran sudah termakan usia, Al quran tersebut sudah tidak utuh. Beberapa kertas dan sampulnya terlihat rusak. Kendati begitu, tulisannya masih awet, tidak luntur.
Sampul Alquran itu terbuat dari kulit. Namun, Nurshodiq tidak tahu persis jenis kulit yang digunakan. Yang pasti, bukan jenis kulit terlarang. Bahkan, tinta yang digunakan merupakan keluaran zaman dahulu. “Dulu pakai tinta yang digosok-gosok, terus ditambah getah daun sana. Sehingga membuat tulisan tidak pudar,” terangnya.
Dengan keaslian yang terjaga itu, banyak peneliti dari berbagai daerah yang melakukan penelitian. Bahkan, ada motif batik di beberapa bagian Al quran. Berdasarkan penelitian, batik tersebut digadang-gadang merupakan asli Jogja. (pra) Editor : Editor Content