Ketua Panitia KRJ Ananda Eka mengungkapkan takjil berupa makanan berat disiapkan oleh ibu-ibu dasawisma Jogokaryan. Total ada 28 kelompok. Masing-masing beranggotakan 10 orang hingga 20 orang. Ananda menyebut warga Jogokaryan secara inisiatif dan suka rela menyiapkan 3.000 takjil setiap harinya.
"Untuk menu diserahkan ke ibu-ibu. Kami bebaskan menunya seperti apa, tapi dengan standar harga yang sama," jelasnya saat ditemui di Masjid Jogokaryan, Kamis (23/3).
Berkaitan dengan pendanaan, Ananda mengatakan membuka penggalangan donasi. Masyarakat bisa turut menyumbang dengan menghubungi sosial media atau datang langsung ke Masjid Jogokaryan.
Terakhir telah terkumpul dana sekitar Rp 200 juta. Dana ini mampu memenuhi kebutuhan takjil hingga satu minggu pertama Ramadan.
"Jadi untuk kebutuhan dana sampai akhir Ramadan untuk 30 hari kami membutuhkan dana sekitar Rp 1,35 miliar," katanya.
Turut hadir membuka secara resmi KRJ, Penjabat Wali Kota Jogja Sumadi mengapresiasi warga Jogokaryan yang turut serta menghidupkan KRJ. Ini menjadi bukti masjid tak hanya sekedar menjadi tempat ibadah. Namun juga tempat untuk menghidupkan perekonomian.
"Alhamdulillah peran masjid tidak hanya menjadi pusat dakwah, bisa memberdayakan masyarakat. Sekaligus mengangkat ekonomi masyarakat. Ada 280 pedagang yg ikut berpartisipasi untuk menjual dagangannya. Mereka cukup laku, jadi alhamdulillah," ujarnya.
Meski tak lagi ada pembatasan, Sumadi mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga aspek kesehatan juga lingkungan. Baik pedagang maupun pengunjung diharapkan bisa membantu program Pemkot Jogja dalam mengampanyekan zero sampah anorganik.
"Kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan. Tetapi aspek kesehatan juga harus tetap dijaga. Karena kita blm habis sekali pandeminya. Kedua aspek sampah, lingkungan. Harus kita jaga. Ini juga menyukseskan program zero sampah anorganik di Kota Jogja," imbaunya. (isa/Dwi) Editor : Editor News