Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menilik Rumah Tenun Magelang

Editor Content • Minggu, 5 Februari 2023 | 16:06 WIB
SERU: Proses pembuatan kain tenun di Rumah Tenun Magelang. Saat ini, tempat eduwisata ini sudah dibuka untuk umum. Sehingga pengunjung bisa melihat proses pembuatan kain tenun dari awal hingga finishing.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
SERU: Proses pembuatan kain tenun di Rumah Tenun Magelang. Saat ini, tempat eduwisata ini sudah dibuka untuk umum. Sehingga pengunjung bisa melihat proses pembuatan kain tenun dari awal hingga finishing.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
RADAR JOGJA - Wisata dilengkapi paket edukasi ini diterapkan oleh Rumah Tenun Magelang yang terletak di Tonoboyo, Bandongan. Rumah tenun ini tidak sekadar tempat produksi kain tenun saja. Melainkan tersimpan cerita yang dinarasikan. Mulai dari petani menanam dan memanen serat, produksi, hingga menjadi sebuah kain tenun.

Para pengunjung bakal diajak berkeliling melihat beberapa tanaman yang digunakan sebagai serat tenun. Pemandu juga akan menjelaskan asal muasal tanaman, proses tiap tanaman, hingga menjadi serat alam, dan siap dipilah.
Semula, rumah tenun ini hanyalah sebuah pabrik kain tenun. Tapi, akhirnya dikembangkan menjadi eduwisata agar masyarakat mengetahui proses pembuatan serat alam hingga menjadi kain tenun.

Marketing Rumah Tenun Magelang Nurlaila Fajriyani mengatakan, produksi kain tenun di Bandongan ini sudah berdiri sejak 22 tahun lalu. Tapi, baru dikembangkan untuk eduwisata sekitar empat tahun lalu.

"Selama 22 tahun berdiri, masyarakat tidak tahu (pembuatan tenun, Red). Setelah dibuka, mereka awalnya kaget. Tapi, ini menjadi hal baru bagi mereka," tuturnya saat ditemui Jumat (3/2).

Laila menjelaskan, rumah tenun ini dibuka untuk umum lantaran pemilik hendak mengenalkan kepada masyarakat secara luas soal tenun serat alami Indonesia. Karena banyak orang yang mengira, jika tenun berasal dari kain saja. Padahal, juga berasal dari serat dan tanamannya mudah ditemui.

Rumah tenun ini berdiri di atas lahan seluas 1,8 hektare. Yang terdiri atas beberapa tempat. Namun, pengunjung dibatasi hanya dapat mengunjungi tanaman dan proses produksinya saja. Tidak sampai masuk ke dalam pabrik.
Setelah sampai di rumah tenun, pengunjung bakal diajak tur berkeliling di tanaman penghasil serat. Dia merinci, ada delapan tanaman yang menghasilkan serat dan ditanam di rumah tenun.

Di antaranya, mendong yang diambil dari Sleman, DIJ. Lalu, kudzu dari Sumatera Utara, akar wangi dari Garut, kenaf dari Lamongan, dan abaca dari Sulawesi Utara. Kemudian, pohon rami dari Wonosobo, pandan gunung dari Borobudur, serta eceng dari Solo.

Masing-masing pohon diolah, dikeringkan, hingga bisa digunakan untuk bahan tenun. Namun, sebelum benar-benar digunakan, ada beberapa proses yang harus diikuti. Mulai dari menyuwir serat utuh dan pemeriksaan ulang. Untuk membedakan serat yang bagus.

Setelah itu, merapikan dan menyambung serat. Pada proses penyambungan ini, ada simpul khusus yang digunakan. Lalu, memintal serat secara manual. Pemintalan ini juga ada tekniknya, seperti angka delapan. Terakhir, memilah warna yang sama.

Laila menambahkan, setelah dari sana, pengunjung diajak tur weaving atau melihat proses pembuatan kain tenun. Yang diawali dengan proses cucuk dan sisir. "Ibarat kata seperti membuat pola jahitan," jelasnya.

Setelah itu, dimasukkan ke dalam mata gun, depan dan belakang, atau sesuai dengan instruksi. Tergantung motif yang diinginkan. Untuk proses sisir, ada dua panduan. Yakni 1-1 atau setiap sisir diisi satu serat, tidak ada yang terlewati. Dan 1-0-1 atau satu sisir diisi serat, satu lagi kosong, dan satu lagi diisi.
Setelah proses cucuk dan sisir selesai, beralih ke tahap selanjutnya. Yakni dirapikan dan diikat sesuai dengan tegangan yang diberikan. "Seratnya dibagi beberapa, kamudian diambil tengah dan ditali. Diikat sesuai tegangan (kencang tidaknya, Red), lalu serat lain bisa diikat mengikutinya," ujarnya.

Setelah selesai, baru masuk ke tahap menenun. Tapi, sebelum dimulai, diberi benang awalan, kayu, dan benang awalan terlebih dahulu. "Baru mulai menenun. Prosesnya pun dilakukan secara manual dengan alat tenun. Penenun biasanya menggunakan satu kaki untuk menjalankan alat itu," imbuhnya.

Ketika sudah berwujud kain tenun, akan ada yang bertugas merapikan kain tersebut. Mana saja yang harus diperbaiki. Butuh ketelitian tinggi untuk mendapatkan hasil kain tenun yang berkualitas dan benar-benar bagus.
Laila memaparkan, produk utamanya berupa tirai. Bahkan, sudah di ekspor hingga ke Amerika dan Eropa. Sedangkan untuk pasar Indonesia, kebanyakan tidak berupa tirai. Bisa berupa pernak-pernik lainnya.

Dia menyebut, ada enam pemandu yang bakal menemani para pengunjung. Setiap 10 orang dipandu oleh seorang pemandu. Untuk tiket masuk tersedia beberapa paket. Mulai dari Rp 100 ribu per orang, hanya tur dari tanaman hingga weaving. Sedangkan Rp 150 ribu mendapat tur dan snack.

Sedangkan Rp 200 ribu mendapat tur, snack, dan makan siang. Untuk paket Rp 250 ribu mendapat tur, snack, makan siang, dan suvenir kecil. "Kalau anak sekolah di Magelang Rp 25 ribu per anak mendapat tur dan snack sedangkan Rp 35 ribu untuk anak sekolah di luar kota," paparnya.

Sementara jam operasional, kata dia, Senin hingga Jumat dibuka mulai pukul 08.00-16.00 dan Sabtu 08.00-14.00. Kunjungan di Rumah Tenun Magelang ini, masih dibatasi meski sudah ada kelonggaran. Pengunjung yang hendak ke sana, sebaiknya melakukan konfirmasi terlebih dahulu.

Di Rumah Tenun Magelang juga menyediakan aneka suvenir dari tenun. Seperti pouch, tas, sarung bantal, table runner, hingga box lilit. Harganya pun bervariasi mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 1,5 juta. Menyesuaikan jenis bahan atau serat yang digunakan. (aya/eno) Editor : Editor Content
#Magelang