Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Di Puncak Ada Sirene, Bisa Lihat Lima Gunung

Editor Content • Senin, 9 Januari 2023 | 18:05 WIB
Dokumen pribadi for RadarJogja
Dokumen pribadi for RadarJogja
RADAR JOGJA - Di Alun-Alun Kota Magelang, tepatnya sisi barat laut, terdapat sebuah bangunan tua dengan kombinasi cat berwarna biru dan putih. Sekilas, struktur bangunannya mirip seperti kompor minyak tanah. Tak heran jika masyarakat menyebutnya 'kompor raksasa'.

NAILA NIHAYAH, MAGELANG, Radar Jogja

Bangunan itu merupakan menara air atau water toren, yang menjadi ikon atau landmark-nya Kota Magelang. Jika ditelusuri, menara air itu menjadi salah satu peninggalan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda.

Bangunan tua yang masih berdiri kokoh tersebut, hingga kini masih berfungsi dengan baik. Terutama untuk menyalurkan air bersih bagi ribuan masyarakat Kota Magelang. Meski usianya sudah lebih dari satu abad.

Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana menyebut, keberadaan menara ini berawal dari sebuah tragedi besar sekitar 1915. Kala itu, saluran air di Kali Manggis, runtuh dan membuat terputus karena adanya retakan.

Dampaknya, penyaluran air bersih kepada masyarakat terhambat. Selain itu, terjadi wabah diare karena sumber air tidak lagi bersih. "Lalu, pemerintah kota meminta bantuan kepada seorang ahli kesehatan dari Semarang dan berkonsultasi," jelasnya, beberapa waktu lalu.

Lantas, ahli kesehatan itu melakukan beberapa kajian. Hingga diputuskan, pemerintah perlu membuat sebuah sistem air bersih yang lebih layak. Seperti tangki besar yang menyimpan air dalam jumlah banyak agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Pengajuan pembangunan itu, diterima dan bakal dibangun di alun-alun. Namun, sebelum dibangun, rencana itu menuai kontra dari pimpinan. Pada akhirnya bisa diselesaikan dan mulai dilakukan pembangunan. Menara air tersebut dibangun oleh seorang arsitek Belanda yang bernama Herman Thomas Karsten.

Berdasarkan arsip sekunder, kata Bagus, menara air itu dibangun sekitar tahun 1916-1920. Kemudian, air tersebut secara resmi disalurkan kepada masyarakat pada 2 Mei 1920. Sekaligus menjadi patokan perayaan hari ulang tahun PDAM.
Dia nelanjutkan, pembangunan tersebut, dilakukan sebanyak tiga tahap. Yakni membangun penampung air di sumber air, membuat pipa sepanjang 8 kilometer, dan membuat jaringan pipa primer serta sekunder.

Tinggi menara air ini mencapai 21,2 meter dengan 32 pilar kuat yang menyangga sekeliling menara. Tak tanggung-tanggung, menara sebesar itu dapat menampung air sebanyak 1,750 juta liter air untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Kota Magelang.

Sedangkan sumber mata airnya berasal dari Kalegen dan Nanom di Dusun Taroman, Desa Kalinongko, Kecamatan Bandongan. Serta sumber air 'Tuk Pecah' dari pingiran Sungai Elo yang berada di perbatasan Kelurahan Wates, Kota Magelang dengan Desa Banyuurip, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang.

Berdasarkan arsip yang ada, luas bangunan tersebut sekitar 395,99 meter persegi. Di bagian paling bawah dari bangunan tersebut, dulunya digunakan untuk laboratorium, pelayanan pelanggan, ruang admintrasi, dan ruang pengontrol air. "Namun, saat ini beralih fungsi sebagai gudang dari PDAM Kota Magelang," katanya.

Pada masa revolusi 1945-1949, menara air tersebut sempat tidak bisa melayani masyarakat. Sebab saluran air yang berada di jembatan Sungai Progo, Meteseh itu, rusak karena bom. Lalu, diperbaiki pada 1949 dan bisa berfungsi kembali.
Lalu, pada 1950-an, disebutkan bahwa sering terjadi pencurian air bersih. Karena antara penyaluran air dan kebutuhan masyarakat tidak seimbang, pemerintah kota melakukan beberapa hal. Seperti menambah debit air dan mencari sumber air lain.

Selain itu, juga membuat hydrant umum dengan membangun MCK dan memasang pipa air bermerk Century Utrecht NV Solten Fabriek. Yang terletak di bawah tanah dan sebagian besar terbuat dari asbes. "Itu upaya pemerintah untuk memfasilitasi masyarakat yang tidak terpenuhi kebutuhan air bersihnya," ujar Bagus.

Dia menambahkan, di dalam menara air itu, terdapat belasan ruangan. Seperti ruangan yang berisi tiga buah manometer atau alat pengukur tekanan air. Fungsinya untuk memastikan air dari pipa-pipa induk bisa disalurkan melalui pipa sekunder kepada para pelanggan.

Untuk mencapai bagian atas bangunan tersebut, harus melalui anak tangga dan berada di bagian tengah. Yang berjumlah 52 anak tangga dengan posisi ulir dan searah jarum jam. Selain itu, juga melewati anak tangga sekitar 2,5 meter yang terbuat dari besi dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

Sesampainya di puncak, terdapat sebuah ruangan kecil dan menara yang menyimpan sirene. Namun, sekarang sirene itu sudah tidak berfungsi kembali. Saat itu, sirene digunakan sebagai penanda berbuka puasa di bulan Ramadan.

Dari puncak, lanjut Bagus, bisa melihat keindahan panorama alam lima gunung. Yakni Gunung Tidar di sebelah selatan, Merapi dan Merbabu di sebelah timur, dan di sebelah barat ada Gunung Sumbing dan Sindoro.

Sedangkan dari pelataran puncak menara air, dapat dilihat bangunan rumah-rumah penduduk, perkantoran, dan pertokoan yang ada di Kota Magelang. Namun, tidak semua orang bisa naik ke puncak menara. Lantaran bangunan tersebut merupakan salah satu objek vital yang dimiliki Pemkot Magelang. (pra) Editor : Editor Content
#alun-alun