Edward Hutabarat yang dikenal sebagai sosok dengan kepakaran wastra nusantara, sukses menggelar presentasi karyanya. Dengan mengangkat eksplorasi kain tenun nusantara khas Sumba. Koleksi tenun yang ditampilkan merupakan hasil dari kerja sama Edward dengan para artisan lokal yang menginspirasinya sejak ia melakukan perjalanan ke tanah Sumba, sekitar 20 tahun silam.
Tak hanya indah, kain tenun mereka seolah berisi harapan para perempuan Sumba. Motif yang elok nan beragam, mampu memanjakan mata siapa saja yang melihat. Terlebih, para mama, sebutan penenun itu, tampak cekatan merangkai satu per satu kapas.
Selain menghadirkan penenun beserta peralatan tenunnya, juga ada karya-karya lain yang ciamik. Seperti keranjang, tudung saji, dan wadah dari anyaman daun lontar, kendi terracota, rongal, tempat obat, patung kayu, tandi kapu, tobung, boneka kain tenun, hingga tiruan rumah adat Sumba.
Direktur Perfilman, Musik, dan Media, Dirjen Kebudayaan, Kemendikbudristek Ahmad Mahendra mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk pelestarian kain tenun. Yang mana disandingkan dengan Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia. Dengan begitu, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya semakin kokoh.
Terlebih, kata dia, proses untuk membuat tenun berhubungan dengan keseimbangan alam. Sehingga harapannya, pesan untuk menjaga keseimbangan alam dapat tersampaikan melalui kegiatan ini. "Kita harus menunjukkan praktik baik, tetapi dalam konteks budaya," ujarnya, Kamis (1/12).
Menurutnya, Sumba merupakan daerah yang keseimbangan alamnya terjaga. Telebih tenun Sumba memiliki proses yang panjang. Bahkan, satu kain tenun baru diselesaikan dalam kurun waktu minimal satu bulan.
Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek, Hilmar Farid menyebutkan, fashion show dipandang penting dan baik untuk mengangkat dan mengkampanyekan kearifan lokal dengan konsep kekinian. Bagi Hilmar, hasil karya Edward memang perlu ditampilkan. Terlebih hasil karyanya mengangkat budaya dan hasil karya Nusantara, salah satunya Sumba.
Kegiatan fashion show dilaksanakan pada Rabu malam (30/11). Meski sempat tertunda lantaran faktor cuaca, namun tetap berlangsung dengan meriah. Harapannya, ke depan terus memunculkan dan mengkampanyekan hasil-hasil karya Nusantara. "Kita selalu terbuka, utamanya untuk pelelestarian budaya tentang apa yang akan dimunculkan dan juga pesannya harus kuat," ujarnya.
Seperti wastra Nusantara lain yang sarat akan nilai budaya tinggi. Menurutnya, kain tenun Sumba memiliki keindahan dari motif yang variatif dan nilai filosofis yang harus tetap dijaga. Hal tersebut yang membuat Edward selalu menjaga pakem dari kain tersebut ketika mengembangkannya.
Pakem ini selalu dijaga karena kain Sumba dan kain-kain dari kepulauan lain merupakan Kain Peradaban. Mereka dicipta untuk melengkapi sebuah seremoni, mulai dari kelahiran, perkawinan, hingga kematian. Dibalik keindahan kain tenun ini, ada serangkaian proses yang panjang dan tidak mudah.
Hal ini juga turut merepresentasikan kesabaran penenun lokal dalam membuat kain tenun tersebut. Dari mulai memintal sendiri benang dari kapas hingga nantinya menjadi kain, ada satu proses yang disebut Kabakil. Yang merupakan teknik akhir dalam menyelesaikan sehelai Kain Sumba. "Serta dikerjakan dengan arah tenunan berlawanan dan dipelintir," jelas koordinator acara Fidelis Tasman Amat.
Dia menjelaskan, proses ini memiliki fungsi untuk melindungi benang-benang agar tidak terlepas dari kain. Sehingga kain tenun memiliki output kain yang sangat rapi. Kain tenun dengan Kabakil inilah yang menjadi nilai spesial dari kain tenun Sumba. Mengingat tidak semua penenun bisa membuat Kabakil dan diperlukan keahlian khusus untuk itu.
Kabakil ini juga yang merepresentasikan judul dari fashion show Edward kali ini. Yang seakan menyuarakan untuk melindungi eksistensi kain nusantara supaya keindahan tersebut tidak terlepas dari identitas budaya bangsa. Seperti Kabakil yang melindungi benang-benang agar tidak terlepas dari kain yang menghasilkan motif indah.
Menurut masyarakat Sumba, selembar kain tenun harganya bisa setara dengan emas. Lantaran ada beberapa hal yang dipertimbangkan, seperti komposisi warna, bahan, hingga kepadatan benang. Meskipun di dalam kain tersebut ada kelas-kelasnya. "Ada yang premium, ada juga yang biasa-biasa. Walaupun secara umum itu kapas," jelasnya.
Istimewanya, dia menyebut, ada benang yang dibuat sendiri. Yakni berasal dari kapas yang bahkan tidak ditanam, tapi tumbuh sendiri. "Jadi, kita mengoleksi apa yang disediakan oleh alam. Itulah yang memakan waktu. Sedangkan dari benang biasa juga ada, kita tidak harus menunggu 2-3 tahun untuk bisa memulainya," tambahnya.
Sementara itu, seorang penenun asal Sumba Timur Lodanangi mengaku, biasanya merampungkan kain tenun itu selama satu bulan. Meski di usia tak lagi muda, justru dia tetap semangat menghasilkan kain tenun yang apik. (aya/pra) Editor : Editor Content