RADAR JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang melalui dinas pendidikan dan kebudayaan (Disdikbud) bakal menggelar pementasan wayang kulit. Yang mana bekerjasama dengan TNI, Polri, dan Kantor Bea Cukai Magelang. Dengan mengangkat cerita legenda Kota Magelang.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Magelang Sugeng Priyadi menuturkan, pementasan ini akan dilaksanakan pada Sabtu (12/11) mendatang pukul 20.00 di Alun-Alun Kota Magelang. Yang bertajuk 'Wayang Kulit Gempur Rokok Ilegal'.
"Karena dibiayai dari anggaran dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) dari Bea Cukai Magelang untuk sosialisask cukai ilegal," bebernya di ruang sidang lantai 1 kantor Setda Kota Magelang kemarin (10/11).
Dia menambahkan, pagelaran ini untuk menutup rangkaian wayang kulit yang sudah berjalan. Dalam rangka hari jadi ke-1116 Kota Magelang di setiap kelurahan dan diperankan oleh dalang lokal.
Nantinya, kata dia, wayang ini akan dipimpin oleh dalang Ki Cahyo Kuntadi yang berasal dari Jaten, Karanganyar. Dengan bintang tamu Jo Klithik Jo Kluthuk dari Ponorogo, Jawa Timur. Sedangkan lakon yang diambil adalah Dumadine Punakawan.
Sugeng menjelaskan, isi cerita itu berkaitan dengan dialog Kyai Semar dengan Syekh Subakir di Gunung Tidar. Dengan penyampaian pesan-pesan Kyai Semar tentang ajaran Asta Brata kepada masyarakat untuk menjaga ketentraman dan keamanan.
Ketika mencari judul lakon, lanjut dia, sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini. Terlebih, untuk menghadapi tahun politik pada 2024 mendatang. "Jika diperhatikan, salah satu kisah wayang seperti Mahabarata itu ada perebutan kekuasaan. Begitu juga pada wayang Wali Songo, ada penambahan tokoh yang membangun masyarakat, di situ diperankan Punakawan," jelasnya.
Pementasan wayang kulit ini, dikaitkan dengan cerita legenda yang ada di Kota Magelang. Terutama pakuning tanah Jawa, Gunung Tidar. Pada cerita itu, ada peran dari utusan dewa yakni Kyai Semar. Dalam rangka memberikan keamanan dan ketentraman kepada masyarakat di Pulau Jawa.
Selain itu, adanya dialog antara Kyai Semar dengan Syekh Subakir. Lalu, berlanjut pada legenda tentang Punakawan. Mitos yang ada di Kota Magelang ini, seringkali orang mengatakan adanya awan putih yang membentuk satu wujud salah satu Punakawan. Sehingga hal itu berkaitan erat di Kota Magelang.
Selain menyuguhkan cerita pewayangan, kegiatan ini juga dimeriahkan oleh karawitan gabungan TNI dan Polri dengan penampilan dalang Kapolres Magelang Kota. Lantaran Kapolres juga mempunyai misi untuk menyosialisasikan agar masyarakat bisa menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.
Menurut Sugeng, upaya kolaborasi ini menjadi contoh yang baik kepada publik. Bahwasanya para pemangku kebijakan saling bekerja sama dan guyub rukun. Sehingga harapannya, masyarakat bisa mengikuti hal itu. Dengan begitu, pagelaran wayang ini menjadi sebuah upaya kecil agar masyarakat hidup tentram, aman, dan tertib. (aya/bah) Editor : Editor Content