Proses pembuatannya masih dilakukan secara tradisional. Bahkan, masih ada para pengrajin mie yang memanfaatkan tenaga sapi untuk menggerakkan alat pengaduk adonan mie. Tampilannya yang kusam menjadikan mie ini lantas disebut mie lethek.
Salah satu warung mie lethek legendaris ada di Jalan Godean Kilometer 7, Bantulan, Sidoarum, Gamping, Sleman. Warung Bakmi Pak Pele namanya. Warung ini telah ada sejak tahun 1983.
Pengelola Warung Bakmi Pak Pele Toro Waluyo menjelaskan dalam satu porsi mie lethek berisi mie kuning, mie putih, telur bebek dan potongan sayur. Dilengkapi dengan suwiran daging ayam kampung dan taburan daun sledri serta bawang goreng.
Proses pembuatan masih menggunakan tungku arang. Ini untuk menjaga keaslian resep yang telah diturunkan sejak orangtua Toro.
"Kalau di sini wajib menggunakan telur bebek. Ayamnya juga ayam kampung, karena kaldunya lebih kental. Rasa ayamnya juga beda, khas ayam kampung," jelasnya, Kamis (27/10).
Salah satu pelanggan asal Jakarta Mawada Niswa mengaku baru pertama kali mencicipi mie lethek. Awalnya, dia sempat ragu akan rasa mie lethek lantaran tampilannya yang berwarna kusam. Dia juga mengira rasanya akan amis.
Namun, setelah mencoba Mawada mengatakan mie lethek memiliki cita rasa yang unik. Gurih, manis, pedas bercampur menjadi satu. Tekstur mie lethek juga menurutnya lebih kenyal dari mie lainnya.
Dia mengatakan, warung Bakmi Pak Pele akan menjadi salah satu destinasi kuliner yang akan dia kunjungi saat berada di Jogjakarta.
"Saya baru pertama kali. Saya pikir tadinya amis, tapi ternyata tidak. Enak, karena telurnya telur bebek, kuahnya creamy, enak. Mie nya juga tidak terlalu matang," katanya. (isa/dwi) Editor : Editor News