Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Permintaan Slondok Meningkat

Editor Content • Kamis, 13 Oktober 2022 | 18:31 WIB
DIJEMUR: Sebelum digoreng, slondok harus melalui tahap penjemuran di bawah sinar matahari. Jika mendung, biasanya akan dioven.(NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)
DIJEMUR: Sebelum digoreng, slondok harus melalui tahap penjemuran di bawah sinar matahari. Jika mendung, biasanya akan dioven.(NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Jajanan slondok semakin dicari konsumen. Meski terbilang kalah dengan jajanan modern, tapi permintaan slondok terus meningkat. Seperti halnya di Desa Kenalan, Kecamatan Borobudur yang menjadi satu sentra produksi slondok.

Sugijati, 67, mengatakan, proses pembuatan slondok terbilang mudah. Pertama, singkong dikupas dan dicuci bersih. Kemudian, dikukus hingga matang. Lalu, diambil serabut yang berada di bagian tengah atau sontrot. Barulah dipotong kecil-kecil, digiling, dan direndam satu malam. Paginya dibentuk bulat-bulat, dijemur, lalu digoreng.

Untuk bahan baku, lanjut dia, berasal dari sekitar Borobudur, Wonosobo, dan Banjarnegara. Tapi, dia memproduksi slondok setiap tiga hari sekali dan menghabiskan satu kuintal ketela pohong. "Setelah diolah, menghasilkan 30 kilogram slondok," ujarnya saat ditemui kemarin (12/10).

Dia menyebut, slondok dijual dengan harga Rp 25 ribu per kilogram. Biasanya, slondok miliknya dipasarkan ke Jakarta, Surabaya, Bandung, Bangka Belitung, dan berbagai daerah lainnya. Namun, pemasarannya melalui pengepul asal Kecamatan Candimulyo. Rata-rata, pengepul akan mengambil slondok 60-80 kilogram.

Srinem, 44, mengatakan, dirinya sudah memprodukai slondok sejak 2015. Biasanya, ada pengepul yang mengambil slondok miliknya dan dijual kembali ke beberapa pasar. Seperti Pasar Kaliangkrik, Klegen, dan Bandongan.

Setiap dua hari sekali, dia memproduksi 1,5 kuintal singkong jenis strip yang berasal dari Wonosobo. Yang menghasilkan 60 kilogram slondok matang. Meskipun di Desa Kenalan ada pasokan singkong, tapi tidak mencukupi kebutuhan semua warganya.

Saat cuaca cerah, lanjut dia, slondok dijemur mukai pukul 08.00-13.00 dan langsung digoreng. Tapi, jika cuaca mendung dan hujan, terpaksa di-oven agar benar-benar kering. Slondok miliknya dibanderol dengan harga Rp 22 ribu per kilogram. Sedangkan satu bal berisi dua kilogram, dihargai Rp 44 ribu. "Biasanya rutin diambili seminggu dua kali," sebutnya.

Kepala Desa Kenalan Agus Suyitno menyebut, slondok di desanya memang sudah diproduksi secara turun-temurun. Dari 460 kepala keluarga, hampir separuhnya memproduksi slondok. "Rata-rata warga Kenalan ini menghidupi dirinya dari slondok," bebernya.

Sekitar 2000, para warga terus menggenjot produksi slondok. Lantaran permintaan konsumen semakin meningkat. Bahkan, para produsen sudah nenggunakan alat cetak. Kendati bahan baku berupa singkong diambil dari luar daerah, tapi tak nenyurutkan warganya untuk melestarikan jajanan tersebut. Hanya saja, kendala utamanya adalah cuaca dan kualitas bahan baku yang kurang bagus. Selama ini, sebagian besar warga memanfaatkan sinar matahari untuk mengeringkan slondok. "Karena kalau pakai oven itu biayanya terlalu tinggi," tambahnya.

Sejauh ini, kata dia, jajanan slondok dipasarkan ke berbagai daerah. Tidak hanya Magelang saja, melainkan di DIJ, Semarang, dan sekitarnya. Bahkan, ada juga yang dikirim ke luar pulau Jawa. Ke depan, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kenalan berencana untuk menjadi pengepul dan memasarkan slondok. Agar warga tak kesusahan untuk memasarkannya sendiri. (aya/eno) Editor : Editor Content
#Kecamatan Borobudur #slondok