Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

150 Keluarga Kekurangan Air Bersih

Editor Content • Kamis, 13 Oktober 2022 | 16:28 WIB
CAPTION : Suasana saat puluhan warga Padukuhan Jodog, Gilangharjo, Pandak Bantul mengikuti pelatihan kerajinan bambu pada Minggu (18/6). Ditengah pandemi seperti saat ini kerajinan dari bambu justru diminati. (IWAN NURWANTO/Radar Jogja)
CAPTION : Suasana saat puluhan warga Padukuhan Jodog, Gilangharjo, Pandak Bantul mengikuti pelatihan kerajinan bambu pada Minggu (18/6). Ditengah pandemi seperti saat ini kerajinan dari bambu justru diminati. (IWAN NURWANTO/Radar Jogja)
 

RADAR JOGJA - Banjir bandang dan tanah longsor melanda Dusun Nalan III, Kenalan, Borobudur. Akibatnya, dua rumah, belasan hewan ternak, serta saluran pipa air bersih penghubung tiga dusun putus. Padahal, ada 150 kepala keluarga (KK) dari tiga dusun yang memanfaatkan air bersih dari saluran tersebut. Hal itu praktis membuat mereka kekurangan stok air bersih.

Kepala Desa Kenalan Agus Waluyo menuturkan, banjir berimbas pada putusnya paralon untuk pengairan dua dusun. Yakni Nalan I hingga Nalan III. Dia berharap, pipa yang rusak itu segera disambung kembali. "Harapannya, segera mungkin pemdes atau perlu pendampingan pihak lain untuk memperbaiki saluran tersebut, karena itu sangat berfungsi sekali," katanya kemarin (12/10).

Agus menceritakan, sebelumnya longsor terjadi di Dusun Wonolelo. Karena adanya hujan lebat yang berlangsung selama 1,5 jam serta angin kencang. "Akhirnya turun dan terjadi banjir bandang di Dusun Nalan III sekitar pukul 13.00," bebernya.

Banjir tersebut, langsung menerjang rumah milik Sri Isah, yang ditinggali seorang diri. Juga menghantam kandang hewan ternak berupa 11 ekor kambing dan dipastikan mati, serta ada 17 ekor itik. Selain itu, banjir tersebut juga menghantam dapur milik Kabito.

Warga yang rumahnya terdampak itu, lantas mengungsi di rumah tetangga. Pemerintah Desa (Pemdes) Kenalan pun tidak memprediksi adanya kejadian tersebut. Mengingat irigasi kecil yang berada di bawah tebing, tidak menunjukkan tanda-tanda rawan bencana.

Berdasarkan pantauan, para petugas gabungan sedari pagi sudah gotong royong membersihkan kerusakan yang ada. Mulai batang pohon, puing bangunan, material longsor lain, hingga mencari hewan ternak yang kemungkinan terpendam.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Edi Wasono menjelaskan, banjir yang mengakibatkan tanah longsor itu, berdampak pada rusaknya dua rumah warga. "Kami perintahkan penghuninya untuk sementara waktu mengungsi," ujarnya saat ditemui di lokasi.

Dia menyebut, saluran pipa air bersih di dusun itu, sudah putus. Sehingga BPBD telah mengirimkan tangki untuk kebutuhan makan, minum, dan lainnya kepada warga. "Untuk paralon, sudah kami koordinasikan dengan pihak perekonomian dan PDAM. Khusus untuk rumah, baik yang hancur maupun terdampak, kami sudah koordinasikan dengan dinas terkait," jelasnya.

Saat ini, BPBD bersama relawan dan Forkompimda yang berjumlah sekitar 350 orang telah membuka pos lapangan, dapur umum, dan pos kesehatan. Selanjutnya, mereka melakukan pembersihan. Baik secara manual maupun dengan menerjunkan alat berat.

Dia menyebut, ada sembilan ekor kambing, 13 ekor ayam, dan itik 15 ekor yang terdampak banjir. Bahkan seekor itik berhasil ditemukan dalam kondisi hidup. "Saat ini masih dalam penghitungan oleh BPBD. Nanti akan kami sampaikan kepada Pak Bupati," katanya.

Untuk langkah selanjutnya, yakni mengungsikan warga yang berpotensi terdampak longsor susulan. Sebab masih ada empat rumah yang berpotensi terdampak. Sehingga perlu adanya pencegahan. Dia pun meminta kepada warga untuk selalu waspada dan titen. Terutama jika ada tanda-tanda bahaya. "Mitigasi kami adalah selalu waspada, siaga, dan pandai menyelamatkan diri," lanjutnya.

Seorang warga Siti Alfiyah, 50, menyebut, pada Selasa (11/10) siang, hujan dengan intensitas deras melanda Dusun Nalan III. Disusul dengan suara gemuruh yang lama-kelamaan terjadi getaran. Dia mengaku panik dan bingung tidak bisa pergi. Lantaran di depan rumahnya sudah banyak pohon tumbang.

Melihat kondisi yang semakin tidak menentu, membuatnya terus beristighfar dan berdoa. Sembari mondar-mandir di teras rumah dan tidak bisa keluar. "Saya kebingungan mau keluar sama ibu saya, tapi tidak bisa. Lari pun tidak bisa, sudah panik. Sudah nyerah sama Gusti Allah," ujarnya.

Saat itu, dia di rumah bersama suami dan ibunya. Setelah reda, sang ibu yang sudah sepuh diajak berlari meninggalkan rumah. Menyelamatkan diri sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. (aya/eno) Editor : Editor Content
#Borobudur #kekurangan air bersih