Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X mengatakan, penyampaian aspirasi bentuk penolakan kenaikan BBM boleh saja dilakukan. Hanya, perlu disampaikan secara dingin dan jangan sampai anarkisme terjadi. "Saya kira BBM kan sudah keputusan pemerintah, ya nggak setuju ya boleh saja. Ya jangan anarkistis saja," katanya ditemui di Kompleks Kepatihan kemarin (15/9).
HB X menjelaskan para demonstran bukan tidak bisa berharap pada daerah karena kebijakan itu merupakan keputusan pemerintah pusat. Pemprov DIJ dalam persoalan ini tidak bisa memutuskan sesuatu. Pertemuan dengan kalangan demonstran pun dirasa tidak perlu. "Ya nggak ada masalah. Wong saya juga nggak bisa mutuskan kok. Yang penting aspirasinya bisa kita sampaikan ke pusat tapi kan keputusannya di pusat," ujarnya.
Langkah atau strategi yang disiapkan pemprov adalah bagaimana mengerem atau menekan inflasi di DIJ yang saat sudah tinggi 5,47 persen lebih tinggi dari standar pemerintah pusat yang hanya 5 persen saja. Upaya penekanan inflasi ini dengan cara memberikan subsidi ongkos kirim kepada distriburor untuk pengiriman berbagai komoditas. Agar harga komoditas ini di pasaran tidak turut meningkat. "Bagaimana kami mencoba untuk misalnya harga telur tidak mahal, misalnya disini kurang ya kita datangkan dari Jawa Timur, Solo atau darimana. Tapi ongkos kirimnya yang nanggung pemprov," jelasnya.
Dengan begitu diharapakan kenaikan harga berbagai komoditas bisa ditekan. Pun inflasi bisa dikontrol. "Ini sedang kami coba identifikasi mana kira-kira yang menimbulkan inflasi tinggi bagaimana bisa kita kembalikan. Bisanya hanya begitu untuk ngeremnya," terangnya.
"Karena BLT pemerintah sudah ada dinas (yang bertanggung jawab), tapi kan nggak ada urusannya dengan inflasi kan. Karena dengan kondisi kenaikan itu mereka nggak mampu," sambungnya.
Raja Keraton itu menargetkan inflasi 5,47 persen itu bisa diturunkan pada kuartal 3 dan 4. "Kami coba ongkos kirim dari sana untuk memenuhi kebutuhan barang kali ongkire pemprov yang nanggung, kira-kira inflasi bisa turun enggak. Harapannya bisa kami ubah siklusnya itu," tambahnya. (wia/bah)
Panggung Rakyat Untuk Teatrikal dan Musik
RATUSAN mahasiswa melakukan long march dari Bundaran UGM yang berakhir di Tugu Ngejaman kemarin (15/9). Mereka bernaung dalam Aliansi Rakyat Bergerak (Arak) untuk melakukan aksi damai. Kendati sempat terjadi gesekan dalam pembangunan panggung rakyat.
Panggung rakyat digunakan oleh Arak untuk menampilkan berbagai kesenian. Salah satunya berupa teatrikal yang diperankan oleh lima orang mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Seorang mahasiswa berperan menggunakan topeng tikus dan memakai kemeja biru. Dia menarik seorang mahasiswa lain yang bertelanjang dada. Pada punggung mahasiswa itu ditulisi BBM dan di dadanya tertulis rakyat.
Mereka tampil dengan iring nyanyian massa. Lagu Naik-naik ke Puncak Gunung diubah liriknya sebagai sindiran. “Naik-naik, BBM naik. Tinggi-tinggi sekali. Kiri kanan kulihat saja, banyak rakyat sengsara,” sorak mereka. Penampilan akustik juga ditampilkan oleh salah seorang simpatisan.
Massa juga memajang dua baliho besar di timur Tugu Ngejaman. Baliho pertama bertuliskan “Dana subsidi habis menguap.” Sementara baliho kedua bertuliskan “Orang pintar tarik subsidi, seniman kurang gizi.”
Wales, simpatisan Arak, mengatakan bahwa sedianya panggung rakyat dipasang depan Pasar Beringharjo. Namun, digeser ke Tugu Ngejaman karena pertimbangan ekonomi. Dalam pergeseran lokasi inilah, Wales mengaku sempat mendapat serangan verbal dari beberapa oknum. “Saya mendapat intimidasi. Dari polisi juga sempat memindahkan panggung ke Alun-Alun (Utara, Red),” bebernya pada wartawan.
Koordinator Arak Kontratirano menekankan, aliansinya mendesak pemerintah untuk memberikan transportasi publik yang merata, inklusif, dan gratis. Menurutnya, ini memungkinkan. “Untuk transportasi publik tidak hanya di kota, melainkan juga ke desa. Bukan memberikan leasing perusahaan transportasi dari Jepang,” cecarnya.
Aktivis yang tampak turut hadir dalam aksi dalam ini adalah Jessica Ayudya Lesmana, 29. Dia mengaku tergerak hadir sebagai representasi massa aksi perempuan. “Aku menulis tentang massa aksi perempuan. Di sana, peran perempuan untuk bersuara penting,” ucapnya.
Sementara Kasi Humas Polresta Jogja AKP Timbul Sasana Raharjo mengungkap, pihaknya siagakan 250 personel. Dalam upaya mengamankan aksi yang dilakukan Arak. “Kami mengimbau untuk rekan-rekan mahasiswa yang unjuk rasa melaksanakannya dengan tertib, aman, santun, dan tetap menjaga suasana kondusif,” tandasnya. (fat/bah) Editor : Editor Content