Salah satu pilot project dari program ini dilaksanakan di Pasar Beringharjo. Bank Mandiri sebelumnya telah berhasil mendaftarkan QRIS bagi para pedagang Pasar Beringharjo bagian barat dan tengah. Kini, Pasar Beringharjo bagian timur menjadi fokus program digitalisasi QRIS.
Vice President Bank Mandiri Area DIJ Evi Martiani mengatakan total ada sebanyak 5.280 pedagang di Pasar Beringharjo. Detilnya 1.500 pedagang di sisi barat, bagian tengah 1.200 pedagang dan sisi timur mencapai 2.580 pedagang. Dari total tersebut baru 1.300 pedagang yang memiliki QRIS.
“Targetnya tahun ini bisa jadi 4.000 yang menggunakan QRIS. Dari 5.800 itu, sebanyak 4.000 pedagang harus pakai QRIS,” katanya saat ditemui di Pasar Beringharjo, Rabu (14/9).
Familiarisasi QRIS kepada para pedagang menjadi tantangan tersendiri. Ini karena para pedagang di pasar tradisional terbiasa menerima uang dalam bentuk fisik. Sehingga perlu waktu untuk beralih ke digital.
Evi dan timnya terus mengedukasi tentang transaksi nontunai. Salah satunya akan terhindar dari kesalahan dalam perhitungan. Transaksi non tunai juga bisa menghindari terjadinya peredaran uang palsu.
“Transaksi non tunai itu membuat pedagang lebih efektif berdagang. Mereka tidak perlu lagi mengurusi uang. Terhindar dari salah perhitungan karena semuanya pas. Artinya kalau sampai harus koma-koma pun, itu juga bisa masuk langsung ke rekening mereka,” katanya.
Salah satu pedagang batik di Pasar Beringharjo Fifina Elisa Dewi sangat terbantu dengan adanya QRIS. Para pembeli justru memilih berbelanja di lapak miliknya lantaran adanya fasilitas ini. Proses pendaftaran QRIS juga dinilai mudah.
“Seperti kemarin ada yang mau beli seragam, pembeli itu bilang sendiri ke saya milih belanja di sini karena ada QRIS nya dan tidak bawa uang cash. Sekarang kita jalan-jalan saja yang paling utama pasti bawa HP,” ujarnya. (isa/dwi) Editor : Editor News