Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jadi Perbincangan, Kerap Disangkutpautkan Asal Muasal Irjen Pol Ferdy Sambo

Editor Content • Sabtu, 27 Agustus 2022 | 15:41 WIB
SEPI: Suasana Dusun Sambo, Desa Podosoko, Kecamatan Sawangan ini tampak sepi saat siang hari. Setelah kasus Irjen Pol Ferdy Sambo mencuat, Dusun Sambo jadi bahan perbincangan warga Kabupaten Magelang.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
SEPI: Suasana Dusun Sambo, Desa Podosoko, Kecamatan Sawangan ini tampak sepi saat siang hari. Setelah kasus Irjen Pol Ferdy Sambo mencuat, Dusun Sambo jadi bahan perbincangan warga Kabupaten Magelang.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
RADAR JOGJA - Saat menyebut Sambo, yang terlintas dalam benak masyarakat saat ini adalah tersangka kasus penembakan yang menewaskan Brigadir J. Tak disangka, Sambo juga merupakan sebuah nama dusun di Desa Podosoko, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Seperti apa?
Naila Nihayah, Magelang, Radar Jogja

Saat kasus yang melibatkan mantan Kepala Divisi Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo naik daun, Dusun Sambo kerap menjadi perbincangan masyarakat. Padahal sebelumnya dusun itu jarang terdengar. Bahkan bisa disebut kurang dikenal masyarakat lantaran letaknya yang cukup jauh dari jalan raya.
Tak ayal, dusun tersebut kerap disangkutpautkan dengan asal muasal Ferdy Sambo. Padahal, jelas keduanya bertolak belakang. Bahkan, kerap dibuat guyonan oleh masyarakat dari desa lain. Hal itu sudah menjadi konsumsi sehari-hari bagi masyarakat.

Perlu diketahui, dusun yang terletak 10 kilometer (km) dari jalan raya Blabak-Sawangan. Dusun ini dihuni oleh kurang lebih 100 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduk sekitar 289 ribu jiwa. Mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan pedagang. Bahkan, tidak ada pegawai aparatur sipil negara (ASN) di dusun tersebut.

Sekretaris Desa Podosoko Kuwato menceritakan, konon ada seorang musafir atau dikenal sebagai penyebar agama Islam yang berkunjung ke dusun itu pada tahun 1700-an. Namanya Wiro Sambo. Saat dia berkunjung, dusun itu belum memiliki nama.

Lantas, oleh dia diberi nama sesuai namanya, yakni Dusun Sambo. Dia pun memilih berganti nama menjadi Kiai Wikono. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, saat itu terjadi peperangan dimana-mana. Banyak prajurit yang lari dalam peperangan Kasunanan Surakarta melawan Belanda. Sementara yang masih kukuh bertahan, semua lari. Hingga Kiai Wikono sampai pada dusun itu.

Bahkan, kebanyakan penduduk di dusun tersebut merupakan keturunan dari Kiai Wikono. Hingga saat ini, Kuwato mengaku, belum mengetahui arti kata dari Sambo maupun diambil dari bahasa apa. Yang jelas, kata dia, Kiai Wikono lah yang memberi nama tersebut sebagai orang yang pertama kali menginjakkan kaki ke dusun itu.

Setelah maraknya pemberitaan soal Ferdy Sambo, dia lantas berpikir, mengapa dusunnya terus disebut-sebut. Sedangkan setahu dia, Sambo adalah nama dusunnya. "Tapi, kenapa sering muncul di televisi. Hingga saya berangan-angan apakah asal usulnya Ferdy Sambo di sini, lalu bertransmigrasi ke daerah lain," kelakarnya saat ditemui di rumahnya, Kamis (25/8).

Sontak hal itu menjadi perbincangan hangat. Saat ada pertemuan dengan masyarakat desa lain, pasti banyak yang bertanya soal hal tersebut. "Saat itu, saya sedang takziah di Candimulyo. Lalu, saya ditanya 'Ferdy dari Sambo?' Saya jawab 'benar, tapi namanya Pardi," imbuhnya.

Selain akses dari jalan utama terbilang jauh, untuk sekolah pun harus menempuh jarak kurang lebih 600 meter agar sampai ke SD yang dituju. Begitu pula dengan SMP maupun SMA yang jaraknya lebih jauh.

Setelah wafat, makam Kiai Wikono pun hingga kini masih dirawat dan dibersihkan oleh keturunannya. Ada pula tradisi Nyadran setiap tanggal 10 bulan Sya'ban. Dengan menggelar beberapa ritual dan mengunjungi makam untuk berdoa. Siapapun diperbolehkan masuk dalam makam. Namun, sifatnya tidak wajib. (bah) Editor : Editor Content
#Magelang