Salah satu penjual tempe besengek, Sumirah, 65, warga Padukuhan Kalimenur, Kalurahan Sukoreno, Kapanewon Sentolo, mengatakan, dirinya adalah generasi ketiga pembuat dan juga penjual tempe besengek. "Bahan baku kacang benguk atau koro di Kulonprogo sebetulnya banyak, namun kalau saya ada pemasok dari Jawa Timur. Soalnya bisa saya bayar kalau tempe besengek saya sudah laku," katanya, Kamis (18/8).
Kedua kacang ini masuk kategori polong-polongan dengan pohon merambat dan kerap juga dijadikan pagar. Ukuran kacangnya besar dan sedikit keras dengan kandungan protein yang cukup tinggi sebagai pengganti kedelai. "Sehari saya bisa jual satu panci ini, kalau dihitung ada sekitar 150 tempe besengek, harganya 10 tempe cukup Rp 5000," ucapnya.
Proses pengolahan membutuhkan waktu cukup lama, bisa sampai 10 hari. Diawali dengan memproses kacang koro atau benguk menjadi tempe, prinsip pembuatannya sama dengan pembuatan tempe kedelai. Sementara untuk proses pembuatan tempe besengek membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam.
"Proses pembuatannya mudah hanya memang butuh waktu lama. Saat dihidangkan, tempe ini berhias santan kelapa tua (kanil). Kalau rasanya perpaduan asin garam, wangi daun salam dan rempah lainnya hingga muncul cita rasa khas (gurih dan legit,red)," ungkapnya.
Dijelaskan, tempe besengek dijualnya sendiri, tidak dititipkan di warung-warung. Banyak juga dipesan untuk rapat kantor, lebaran juga dalam acara keluarga seperti trah. "Awalnya saya jualan di pasar, tetapi karena sering ditumbasi (dicegat) akhirnya saya mangkal jualan di sini," jelasnya.
Salah satu pelanggan, Suwarti, 50, warga Kalurahan Kedungsari, Kapanewon Pengasih mengungkapkan, tempe besengek memang khas Kulonprogo, kendati banyak juga ditemui di beberapa wilayah di DIJ. "Kalau disini biasanya disandingkan dengan geblek, dimakan tempe saja juga enak, ya seperti makan tempe biasanya, lalap cabai juga lebih sip," ungkapnya. (tom/bah) Editor : Editor Content