RADAR JOGJA - Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Sagan berhenti operasi lebih dari tiga tahun lalu. Kini pom bensin di perbatasan Gondokusuman, Jogja dan Depok, Sleman siap-siap kembali melayani masyarakat.
“Kami desain ulang. Seluruh bangunan lama kami robohkan. Diganti dengan bangunan baru,” ujar Gusti Bandara Pangeran Harya (GBPH) Hadisuryo, pemilik SPBU tersebut di sela slametan yang digelar di lokasi kemarin (7/8).
Acara slametan berlangsung secara sederhana, tapi khidmat. Tamu yang diundang cukup terbatas. Di antaranya Sekda Sleman Harda Kiswaya (HK), mantan Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) dan Asisten Administrasi Umum Setda Sleman Kunto Riyadi. Tampak pula bekas Kepala Dinas Sosial DIJ Untung Sukaryadi. Pengasuh Ponpes Anumarta Jejeran, Bantul KH Muhammad Djawis Masruri Al Jejerani didaulat memimpin doa.
Meski hadir, HK maupun HP sama-sama tidak memberikan sambutan. Selama acara keduanya tampak akrab. Beberapa kali HK dan HP terlibat pembicaraan ringan. Namun saat disinggung soal agenda 2024, keduanya bersikap kompak. Memilih tertawa lepas.
Satu-satunya sambutan datang dari tuan rumah. Gusti Hadisuryo, sapaan akrabnya, merupakan kerabat Keraton Jogja. Dia tercatat salah satu anak laki-laki Sultan Hamengku Buwono (HB) IX.
Pemilik nama muda Bandara Raden Mas (BRM) Kasworo saat ini merupakan pangeran paling senior dari sembilan putra HB IX. Urutannya persis di bawah HB X yang sekarang bertakhta.
Kembali ke SPBU Sagan, Gusti Hadisuryo mengatakan bangunan berdiri di atas tanah kasultanan. Sebelum dikelola dirinya, pom bensin tersebut milik keluarga kakaknya alm. KGPH Hadikusumo. Setelah kakak iparnya Bandara Raden Ayu (BRAy) Sri Hardhani Hadikusumo meninggal pada 11 Agustus 2018 lalu, pengelolaan SPBU itu dilanjutkan dirinya.
Kini setelah melalui beragam proses, pengoperasian salah satu pom bensin tertua di Jogja itu dimulai. Pembongkaran membutuhkan waktu satu hingga dua bulan. Setelah itu akan dibangun ulang. “Selesai nanti sekitar Maret 2023 dan siap beroperasi kembali,” jelasnya seraya menjelaskan slametan sengaja diadakan pada 7 Agustus bertepatan dengan 7 Muharam. “Pitu itu maknanya pitulungan. Jadi hari yang baik,” terang pangeran yang tinggal di Bintaran, Jogja ini. (kus) Editor : Editor Content