Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIJ Budiharto Setyawan mengatakan, produk hortikultura DIJ, terutama buah-buahan eksotis terbukti banyak diminati. Bahkan jika bisa dikembangkan bisa untuk pasar ekspor. Dia mencontohkan salak dan melon Inthanon (Gold Emerald) yang banyak dibudidayakan di pesantren di DIJ. “Hortikultura sendiri tidak hanya tanaman bunga, tetapi sebenarnya arti lebih luas termasuk buah-buahan,” katanya di sela Bimbingan Teknis (Bimtek) II Ekspor Produk Hortikultura di Aula Kantor Dinas Koperasi dan UKM DIJ, Rabu (27/7).
Dengan adanya potensi sektor pertanian hortikultura, kegiatan bimtek khusus ini diharapkan bisa mendorong peranan dari hortikultura menyumbang potensi pertumbuhan ekonomi maupun ekspor di DIJ. Untuk negara tujuan ekspor sektor pertanian yaitu Amerika paling besar, kemudian Jepang, Uni Eropa dan ASEAN sendiri. Sedangkan untuk produk hortikultura yang daya tahannya tidak begitu panjang, bisa lebih fokus masuk ke ASEAN, Tiongkok dan membuka pasar baru seperti Timur Tengah dan Afrika.
Meski diakuinya harus ada pemahaman terkait proses ekspor. Karena Negara tujuan juga memiliki standar untuk setiap produk yang masuk. Hal itulah yang bisa dijelaskan melalui bimtek. Termasuk bekerja sama dengan pihak lain, seperti Bea Cukai hingga Balai Karantina. “Pasarnya masih luas tinggal bagaimana kita bisa masuk dengan kualifikasi yang dibutuhkan,” tuturnya.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIJ Bidang Organisasi Robby Kusumaharta menyampaikan pihaknya selaku aggregator siap mendukung sekaligus menjembatani pelaku UMKM maupun petani hortikultura memperluas pasar hingga ekspor. Menurut dia, Kadin DIJ mempunyai kebijakan pengembangan UMKM berupa peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan reformasi digital yang harus terus berjalan.
Robby menyampaikan, Perhimpunan Horti Ekspor Milenial (Perhemi) mendorong sektor hortikultura sebagai salah satu backbone pemulihan ekonomi yang terkontraksi akibat pandemi Covid-19. Untuk itu, sektor hortikultura yang berpotensi luar biasa ini bisa menjadi senjata bagi petani milenial dan perempuan untuk digarap seoptimal mungkin. “Terbukti dengan fasilitasi Perhemi, produk horti sudah diekspor ke 19 negara,” ungkapnya. (vis/pra)
Editor : Editor Content