Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ironi, Gudeg Khas Jogja tapi Gori dari Luar Daerah

Editor Content • Selasa, 12 Juli 2022 | 20:39 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Sebagai makanan khas Jogja, bahan baku gudeg diketahui masih berasal dari luar daerah. Seperti nangka muda atau gori. Jika tak diantisipasi, bisa jadi eksistensi gudeg Jogja terancam.

Budayawan Joko Kanigoro mengatakan, Gudeg sebagai makanan khas di Jogja ternyata belakangan ini tak dipikirkan konsistensinya. Bisa saja terjadi krisis Gudeg di Jogjakarta. Hal itu melihat dari ketersediaan bahan baku utama pembuatan Gudeg yaitu nangka muda atau gori ternyata tidak bisa dipenuhi dari produk lokal. "Nangka muda atau gori untuk membuat Gudeg ini hampir seluruhnya didatangkan dari luar Jogjakarta. Kita ketergantungan dengan nangka atau gori dari daerah lain," kata Joko, Selasa (12/7)

Joko menilai seandainya ada kejadian luar biasa yang kemudian berpengaruh pada pasokan nangka atau gori tentu akan berdampak pada Gudeg di Jogjakarta. Joko menuturkan kondisi ini seharusnya mulai dipikirkan oleh pemerintah daerah. Dia mencontohkan seperti kasus cengkeh, harganya anjlok kemudian pemilik pohonnya ramai-ramai menebang pohon karena harganya murah. "Kalau ini terjadi di pohon nangka, lha bisa mengancam Gudeg. Warung-warung Gudeg bisa tutup karena bahan utamanya gak ada," ungkap Joko.

Joko pun meminta Pemprov DIJ maupun pemkab di DIJ harusnya melihat kondisi ini. Di antari harus membuat semacam hutan pohon nangka atau kebun nangka yang luas untuk menjaga pasokan bahan utama Gudeg. "Nanti harga bisa terus stabil dan ketersediaan bahan terjamin," imbuh Joko.

Ketua Paguyuban Gudeg Wijilan Chandra mengamini pernyataan Joko. Dia mengakui jika bahan baku utama pembuatan Gudeg yaitu nangka masih mengandalkan dari daerah lain. Chandra menerangkan nangka ini biasanya didapat dari daerah Jawa Tengah maupun dari Sumatera. "Sekarang masih nangkanya dari daerah Jawa Tengah. Kalau pas di Jawa gak musim, pakai nangka dari Sumatera. Sebagian besar (nangka) dari daerah Lampung kalau dari (daerah) Jawa kurang," ungkap Chandra.

Chandra menyebut pihaknya mendukung penuh apabila ketersediaan nangka bisa dipenuhi sendiri dari wilayah Jogjakarta. Selain memotong jalur distribusi juga harga nangka bisa lebih murah. "Saya berharap bahan bisa terpenuhi dari Jogjakarta saja," tutup Chandra.

Guru besar di Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT), Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM Murdijati Gardjito yang juga seorang penulis buku berjudul Gudeg Jogja, menjelaskan bahwa gudeg pertama kali dibuat oleh prajurit saat babat alas pembuatan pembangunan kerajaan Mataram. Saat itu, kerajaan Mataram baru akan didirikan di daerah bernama Alas Mentaok. "Saat pembangunan kerajaan Mataram di Alas Mentaok, banyak pohon ditebang. Di antaranya ada pohon nangka, melinjo dan kelapa. Karena buah dari pohon ini melimpah, prajurit membuatnya sebagai masakan kemudian terciptalah gudeg," ungkap Murdijati dalam bukunya Gudeg Jogjakarta. (pra)

  Editor : Editor Content
#khas jogja #Gudeg Jogjakarta