Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kampanyekan Pancasila Lewat Mural Wayang

Editor Content • Rabu, 1 Juni 2022 | 17:38 WIB
ARTISTIK: Saat masuk gang menuju Dusun Karang Watu, Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, disuguhi mural wayang di sisi tembok kiri dan lukisan para pahlawan di sisi kanan.(NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)
ARTISTIK: Saat masuk gang menuju Dusun Karang Watu, Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, disuguhi mural wayang di sisi tembok kiri dan lukisan para pahlawan di sisi kanan.(NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Mural dengan berbagai karakter wayang menghiasi Dusun Karang Watu, Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan. Ada sembilan panel dengan gambar dan pesan berbeda. Mural tersebut sebagai sarana untuk mengampanyekan dan menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat, khususnya kawula muda.

Mural wayang di sisi tembok kiri memiliki panjang 35 meter dan tinggi 2,5 meter. Namun, dibagi menjadi sembilan panel dan satu panel bergambar simbol Pancasila. Sedangkan lukisan para penggagas Pancasila dan pahlawan terletak di sisi tembok kanan dengan panjang 27 meter dan tinggi 3,5 meter.

Seorang seniman Yulius Iswanto menyebut, pengerjaan mural wayang, para tokoh pencetus Pancasila, dan beberapa pahlawan Indonesia di tembok gang menuju dusun hanya memakan waktu 13 hari. Pasalnya, dia baru mendapat informasi dari kelurahan bahwa dusunnya bakal dicanangkan sebagai Kampung Pancasila, hari ini (1/6).

Setelah itu, dia meminta warga setempat untuk bahu-membahu melukis mural tersebut. Iswanto bertugas untuk membuat sketsa kemudian para warga yang berjumlah 15 orang bertugas mewarnainya. "Setelah ada kabar itu, saya antusias dan meminta kepada warga untuk membantu," ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa (31/5).

Photo
Photo


Dia mengatakan, panel-panel di tembok itu menggambarkan sila-sila Pancasila yang diilustrasikan dengan tokoh wayang, terutama Punakawan. Menurutnya, Punakawan dipandang sebagai tokoh wayang yang merakyat dan merupakan gambaran dari tokoh rakyat jelata.

Konon, Punakawan berasal dari kata pana yang berarti mengetahui dengan jelas dan kawan artinya teman. Sebagai abdi, sosok Punakawan akan setia menemani bendoro atau majikannya. Sebagai pendamping, saat sang majikan mengalami kesusahan, gundah, dan gelisah.

Iswanto menjelaskan, panel pertama menggambarkan sosok Arjuna bersama para abdi Punakawan sedang melakukan upacara. Hal itu menjadi pengejawantahan untuk sila Pancasila keempat. Sedangkan panel kedua menggambarkan proses sungkem atau bersalaman yang menjadi pengejawantahan sila kedua dan ketiga.

Selain itu, panel ketiga menggambarkan gotong royong. Itu menjadi visualisasi nilai Pancasila sila ketiga. Panel keempat menggambarkan para abdi yang dihadang dengan latar rumah-rumah ibadah di Indonesia. Gambar itu mengandung sila pertama, kedua, dan ketiga.

Lebuh lanjut, dia menyebut, panel kelima menggambarkan seorang tokoh wayang yang bersedekah. Panel keenam, menggambarkan visualisasi tentang keragaman budaya di Indonesia. Hal itu mencermin dari sila ketiga. Panel ketujuh, para Punakawan sedang bermusyawarah dan masuk dalam sila keempat.

Panel kedelapan menggambarkan Puntadewa dan Punakawan sedang menanam pohon yang berisi tentang pelestarian alam. Bisa mencakup lima sila Pancasila. "Panel kesembilan, semar sedang mendidik murid-muridnya yang terdiri dari beberapa abdi lain. Ibaratnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa," jelas Iswanto.

Panel terakhir dengan gambar burung Garuda dengan latar belakang bendera merah putih. Munculnya Pancasila merupakan salah satu pusaka yang diperoleh dari para pahlawan. Yang memperjuangkan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum. "Pas sekali sebagai sumber dasar negara kita yang plural dan beraneka ragam," imbuh dia.

Pada tembok sisi kanan, ada lima sila Pancasila dan visual yang menggambarkan tiga tokoh yang mencetuskan Pancasila. Yakni Soekarno, Soepomo, dan M. Yamin. Sedangkan tiga pahlawan Indonesia yang dilukis yakni Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanudin, dan Cut Meutia.

Iswanto menambahkan, mural wayang dan lukisan para pahlawan memang khusus dibuat untuk memperingati Hari Pancasila yang jatuh pada 1 Juni. "Harapannya, generasi sekarang terilhami oleh gerakan maupun perjuangan para pahlawan pendahulu kita," paparnya.

Sementara itu, Ketua RT 01/RW 02 Desa Pucungrejo Esworo mengapresiasi dan mendukung adanya mural tersebut. Dengan adanya mural itu, dia berharap, anak-anak muda lebih mengenal tokoh-tokoh wayang. Pasalnya, dia menilai, keguyuban dan kebersamaan warga perlahan pudar lantaran adanya ponsel. (aya/bah) Editor : Editor Content
#Magelang #Mural Wayang