RADAR JOGJA – Pengusaha manufaktur kayu di Bantul mengeluh kesulitan ekspor. Diakibatkan oleh ketersediaan kontainer yang minim. Jadinya biaya pengiriman pun melambung.
Salah seorang pengusaha manufaktur kayu Ayun Solihahmengaku pengiriman produknya terhambat. Keadaan ini dialaminya sejak September 2021. “Kontainer sulit didapatkan,” keluhnya diwawancarai Radar Jogja kemarin (6/4).
Pengiriman produk dengan tujuan Amerika dan Eropa masih menerapkan karantina Covid-19. Ini berdampak pada harga muat di kapal. Beribas pula pada kenaikan biaya kontainer. Kenaikan mencapai 6-10 kali dari harga sebelum pandemi, bervariasi sesuai negara tujuan. “Dulu sekitar USD 2.000 sampai USD 2.500, sekarang sekitar USD 18.000 sampai USD 22.000,” bebernya.
Selain itu, ibu satu orang putra ini juga kerepotan menunggu antrean ekspor. Sebab pemesanan kontainer ekspor memakan waktu 1-1,5 bulan. Sebelum produk dikirim, harus dilakukan pula pengecekan ulang. Guna memastikan produk masih dalam kondisi baik. “Otomatis menambah beban cost usaha,” sebutnya.
Sejauh ini, Ayun menanggulangi masalah hanya dengan sesegera mungkin melakukan pemesanan kontainer. Ketika dia mendapat pesanan barang yang harus dikirim ke Eropa atau Amerika. “Agar waktu bisa sesuai dengan waktu penerimaan order,” ujarnya.
Dikonfirmasi terpisah, Mediator Hubungan Industri Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bantul Bahari Toharuddin pun mengaku dapatkan laporan terkait minimnya ketersediaan kontainer. Dikatakan, secara umum industri di Bantul sudah kembali bergeliat. Sebanyak 90 persen dari total 1.500 wajib lapor ketenagakerjaan disebutnya mampu bangkit setelah pandemi Covid-19. “Kurang baik itu, karena ada penyesuaian di mekanisme ekspor. Masih antre kontainer,” tandasnya. (fat/pra) Editor : Editor Content