Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Berawal dari YouTube, Diekspor hingga Brasil

Editor Content • Senin, 18 Oktober 2021 | 16:12 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA – Handy craft kini mulai banyak diminati oleh masyarakat. Apalagi home decoration. Sehingga muncul para perajin handy craft yang tersebar di beberapa desa maupun kecamatan di Kabupaten Magelang.

Seperti Purwoko. Pemilik home industry handy craft. Bahan yang digunakan berupa bambu. Mengombinasikannya dengan kayu, kulit, maupun logam. Besi ataupun alumunium. Produk yang dihasilkan berupa lampion, hiasan dinding, akar dari kayu, asbak, dan lain-lain. “Sekarang yang diminati itu koiling. Anyaman bambu yang dililit, bisa jadi mangkuk ataupun lampion,” ujar Purwoko, kemarin (17/10).

Awalnya, pada 1997, Purwoko iseng membuat handy craft dari anyaman. Masih berupa sangkar burung. Hingga ia tertarik untuk mencari sumber yang lebih banyak lagi. Dari Youtube maupun temannya. “Kalau untuk memperdalam, saya datang ke ahli pembuat anyaman langsung, ilmunya jelas,” tuturnya.

Photo
Photo


Katanya, ia sering ikut pelatihan membuat anyaman. Hingga pada akhirnya bertemu dengan orang Swedia. Diberi modal sebesar satu miliar untuk membangun usahanya sendiri. “Akhirnya saya dan teman-teman sepakat untuk membuat home industry dari anyaman bambu,” paparnya.

Hingga sekarang, ia telah membuat lebih dari 160 jenis produk. Purwoko juga lebih memperbanyak produk koiling. Karena peminatnya semakin bertambah. Namun, Purwoko hanya membuat pesanan saja. Belum dijual ke pasar ataupun di rumahnya, Dusun Prajekan, Desa Prajeksari RT 1/RW 2, Tempuran.

Ia juga menyesuaikan permintaan pesanan. Mulai dari model hingga warna yang akan diberikan. Konsumennya lebih banyak berasal dari Bali, Tanjung Pinang, Nusa Tenggata Timur, dan Makassar. Sedangkan untuk luar negeri, ia bisa memasarkan produknya ke Maldives, Prancis, Swedia, Brazil, bahkan ke Australia. “Kenal para konsumen ya dari komunitas bambu Indonesia. Sering berbagi pengalaman dan ikut pelatihan-pelatihan,” kata Purwoko.

Jika ramai, ia bisa mendapatkan pesanan lebih dari 1.000 buah. “Kalau pesanannya banyak dan kami kewalahan, saya bekerja sama dengan para perajin anyaman di Kabupaten Magelang, Sleman, Gunungkidul, Jogja, dan Bantul,” ujar Purwoko.

Untuk harganya beragam. Mulai dari Rp 60.000 hingga Rp 480.000 untuk anyaman bambu biasa dan koiling sekitar Rp 750.000 hingga Rp 1,2 juta. Sedangkan untuk mebel laminasi berkisar antara Rp 4,5 juta hingga Rp 12 juta.
Dibanding tahun ini, Purwoko mengaku, pesanan lebih banyak sewaktu awal pandemi. Merosot total. Banyak yang tidak berjalan akibat PPKM yang diterapkan. “Harusnya masih ada pesanan dari Prancis, tapi karena kondisinya seperti ini, kami tidak mau ambil risiko,” ungkapnya.

Pemilik Q-Roon-art ini berharap ada perubahan dan pesanan semakin bertambah. Pun dengan perekonomian desanya juga ikut naik. “Saya ngajak para perajin anyaman agar sama-sama membantu perekonomian, tidak cukup di pelatihan atau negosiasi jual beli,” papar Purwoko. (cr1/pra) Editor : Editor Content
#Magelang #Diekspor #industry handy craft #ekonomi bisnis