Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Camilan dari Produk Gagal

Editor Content • Minggu, 4 Juli 2021 | 15:00 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Gulali atau gelali merupakan salah satu penganan manis yang masih dapat ditemui. Meskipun keberadaan olahan jadul ini sudah cukup sulit dijumpai. Pedagangnya pun kebanyakan berusia renta.
Dulu, pedagang gulali banyak ditemukan di tempat-tempat keramaian masyarakat. Misalnya di sekitar pertunjukan wayang kulit, jathilan, atau ketoprak yang banyak ditanggap seseorang yang punya hajatan.
Kudapan berbahan dasar gula ini, ternyata awalnya merupakan produk gagal. Trisna Manurung menjadi salah satu saksinya. Pria yang saat ini menjabat kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Bantul ini merupakan seorang cucu pembuat gula merah.
Lalu apa hubungannya? Gulali ternyata produk gagal dari gula merah. Produk ini dinyatakan gagal karena terlalu banyak mengandung air, sehingga gula merah yang dicetak di tempurung kelapa tidak dapat mengeras dengan sempurna.
“Kalau dulu bukan sengaja dibuat gulali. Tapi mau mencetak gula jawa tapi nggak jadi,” ungkap Trisna saat dicegat Radar Jogja usai rapat di Gedung Induk Kompleks Parasamya Bantul, kemarin (2/7).
Untuk diketahui, gula jawa berasal dari legen atau air nira. Produk ini gagal menjadi gula merah, biasanya akibat terkena hujan. Kandungan legen rusak karena tercampur banyak air saat hujan. “Legen itu kalau diunduh di musim hujan, nggak akan bakal menjadi gula. Jadinya gulali,” jelasnya.
Dari cerita Trisna dapat disimpulkan, gulali awalnya tidak dihadirkan secara sengaja. Trisna kecil kerap menyantapnya sebagai camilan. Wajar, kakek dan neneknya merupakan pembuat gula merah. Bahkan Trisna bisa makan dengan puas. “Nggak rebutan, karena banyak pakai baskom,” cetusnya dengan meregangkan kedua telapak tangan.
Gulali ini akan disantap oleh Trisna tiap kakek- neneknya panen legen. Namun legen dinyatakan gagal, karena malam sebelumnya turun hujan. “Ditaruh di baskom sama kakek-nenek saya, terus dikasih sendok. Dimakan kayak camilan,” ujarnya. (fat/laz)

 

Lewat Sentuhan Seni, Jajakan Aneka Bentuk

Gulali merupakan makanan jenis permen. Menyerupai lolipop atau permen sunduk. Rasanya manis legit. Umumnya terbuat dari gula pasir yang dicampurkan dengan air sesuai takaran. Lalu direbus cukup lama dan diaduk agar tidak gosong.
Gulali memiliki tekstur padat. Namun seketika bisa melunak dan mengeras. Umumnya berwarna kuning kecoklatan. Tapi seiring perkembangannya, menjadi lebih kaya warna, rasa dan bentuk.
Konon gulali sudah dikenal di Indonesia sejak masa penjajahan belanda. Dan hingga sekarang masih menjadi jajanan favorit anak-anak.
Gulali masih dijumpai di Jogjakarta. Tepatnya di area Malioboro, sekitaran Beringharjo, Keraton Jogja, Pasar Ngasem dan sekitaran Alun-alun Kidul (Alkid). Dan menariknya, gulali tak hanya gulali sunduk. Tetapi dibuat dengan sentuhan seni.
Seperti yang dilakukan penjual gulali asal Garut, Jawa Barat, Ajang Lesmana, 37. Dia menjajakan gulali dengan beragam bentuk. Ada bunga lili, bunga tulip, ayam jago, gaya lolipop, dot bayi, dan lain-lain. Semua hasta karyanya, asli dari gulali ini dibanderol Rp 5 ribu.
“Yang saya buat ini bunga lili. Warnanya kombinasi merah dan dan kuning,” ungkap Ajang saat ditemui Radar Jogja berjualan di sekitar Pasar Bringharjo (2/7).
Ajang tampak lincah membentuk bagian demi bagian kelopak bunga lili. Dia mengambil adonan dari wajan dengan sekatan di tengahnya. Lalu menarik ulur gulali itu dan menyentuhkan sedikit tepung agar tidak lengket. Hingga gulali itu menjadi terulur dan membentuk garis memanjang. Layaknya gulungan rambut.
Kemudian diambilnya sedikit demi sedikit dan seketika dia bentuk. Pertama bulatan kelopaknya, lalu dilanjutkan dengan mahkota demi mahkota. Tak selang dua menit bunga itu jadi. Lantas dimasukkannya gulali ke dalam kantong plastik dan mengikatnya dengan karet dibagian pangkalnya.
“Kalau dibungkus gini awet bisa sampai enam hari,” kata pria yang tinggal di Kampung Sayidan, Jogja, itu. Lalu dia menunjukan keahlian lainnya, membuat ayam jago. Yang diawali membuat badan, lalu membentuk jengger dengan bantuan gunting. Dan merangkainya tanpa memutus oloran gulali itu. Bahkan prosesnya lebih cepat dari membuat bentuk bunga lili. Tak lebih dari semenit. “Yang ini berbeda. Bagian ekor bisa ditiup kayak peluit,” ujar Ajang.
Ajang sudah menjajakan gulali sejak satu dekade lalu di Pasar Beringharjo. Sebelumnya dia pernah berjualan juga di kampungnya. Lantaran sepi, dia mengikuti jejak temannya, merantau di Kota Gudeg ini.
Dia mengaku, tertarik berjualan gulali sejak ia masih kecil. Bahkan gulali salah satu makanan favoritnya kala itu. Terlebih saat melihat penjual gulali yang terampil membuat berbagai kreasi gulali. Dia semakin ingin menekuni profesi tersebut.
Hingga dia belajar dari temannya, dan terus mengembangkan skill-nya sampai sekarang. Meski saat ini kondisinya buruk lantaran pandemi, dia tetap berjuang dan bersemangat menjajakan gulali.
Ia hanya bisa merangkai gulali dengan tangan kosong. Sebab, jika harus lebih higenis menggunakan sarung tangan, hasilnya kurang maksimal. Kendati begitu, dia tetap berjualan dengan tetap menjalankan protokol kesehatan (prokes).
“Di sini ada banyak yang jualan. Rata-rata dari Jawa Barat, beberapa dari Tasikmalaya,” ujarnya. Kendati saat pandemi mayoritas memilih pulang kampung dan beberapa mengganti usaha. “Wisata sepi, anak-anak juga berkurang. Pada takut keluar rumah,” keluhnya. (mel/laz) Editor : Editor Content
#oldies