“SSN bersama SSN di kafe Kabar Baik Eatery,” kata Tedi Wintoko Sabtu (27/3). SSN yang pertama adalah Saben Seloso Nyoto. Sedang SSN kedua Sanggar Seni Notoyudan. Maksudnya adalah menikmati soto dengan hiburan musid dari Sanggar Seni Notoyudan di di kafe Kabar Baik Eatery tiap Selasa.
Tedi Wintoko adalah pencetus kuliner Soto Kenanga atau Soto Empal Kerbau di Kalasan Sleman. Ison merupakan pendiri kafe Kabar Baik. Adapun Alvon merupakan pendiri Sanggar Seni Notoyudan yang merupakan sanggar musik gratis. Mereka sama-sama alumni SMA Kolese de Britto. Tapi berbeda angkatan.
Kolaborasi kulineran pagi-siang ini sekaligus mendobrak mindset bahwa kafe adalah ruang eksklusif, yang terbatas untuk makan ala barat. Mereka ingin menampilkan soto naik kelas. “Soto masuk kafe sesuatu yang unik, makan soto yang simple food di lokasi yang nyaman tapi rasa tetap nomor satu,” kata Ison.
Alumni SMA de Britto 1991 itu menyebut, yang makin menarik karena tiap Selasa menghadirkan hiburan music. Dari para siswa di Sanggar Seni Notoyudan. Sudah setahun pandemi ini, ratusan murid dan seniman sanggar musik itu kehilangan panggungnya. Untuk sementara, para musisi dari sanggar itu dijadwalkan tampil tiap hari Selasa di kafe itu dari mulai pukul 06.00-13.00.
Tedi menambahkan, hadirnya soto di kafe karena melihat kebiasaan di DIJ. Yaitu belum adanya budaya ngopi pagi di kafe. Adanya nyoto pagi. Sehingga ruang kosong di kafe saat pagi itu yang coba dimanfaatkan agar soto bisa dinikmati di kafe dengan waktu pagi hingga siang."Jadi ketika soto masuk kafe itu pada pagi hari itu tak mengganggu pasar kafe yang biasanya pasarnya mulai siang sampai malam hari," kata Tedi yang merupakan alumni SMA de Britto angkatan 1996 itu.
Bagaimana dengan kolaborasi bersama Sanggar Seni Notoyudan? Tedi mengatakan, kolaborasi ini merupakan kesempatan untuk berbagi. Karena di hari-hari tertentu, ketiganya juga sepakat untuk menyisihkan 25 persen keuntungan hari itu untuk didonasikan ke Sanggar Seni Notoyudan. “Di Kabar Baik Eatery, makan soto yang enak sambil mendengarkan musik yang baik,” katanya.
Selain tempat yang nyaman, harga soto yang ditawarkan dari konsep kolaborasi ini sangat terjangkau. Satu porsi soto hanya Rp 9.000,00 sedangkan harga empal kerbau, sapi, dan babat Rp 25 ribu. Untuk nasi dijual terpisah dengan harga Rp 3.000, gorengan Rp 2.000 dan minum berkisar Rp 5.000-Rp 8.000.
Pendiri Sanggar Seni Notoyudan Silvester Alvon bersyukur, saat event pertunjukkan sangat minim, 100 lebih siswanya di sanggarnya kembali bisa mendapatkan tempat manggung secara bergiliran. Panggung menjadi harta paling tak ternilai bagi profesi seniman, berapapun jasa mereka dihargai bukan soal utama. adanya kolaborasi ini kami senang sekali karena kemampuan yang kami miliki lewat musik itu bisa tersalurkan," jelasnya. (mg/pra) Editor : Editor Content