Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gagal Panen dan Terpaksa Beli Non Subsidi

Editor Content • Senin, 23 November 2020 | 17:00 WIB
ILustrasi Foto :(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
ILustrasi Foto :(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Sebagian petani di DIJ kesulitan mengakses pupuk bersubsidi. Padahal pupuk menjadi kebutuhan primer untuk memenuhi nutrisi tanaman. Sejumlah petani pun mengaku gagal panen akibat kelangkaan tersebut.

Anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Harapan Suwanto mengakui adanya kelangkaan pupuk subsidi di daerahnya. Hal itu dirasakan seluruh anggota gapoktan asal Bantul ini. Petani terpaksa membeli pupuk non subsidi dengan harga yang tergolong mahal.

Dia menjelaskan, harga eceran tertinggi (HET) pupuk subsidi jenis urea yang dijual kepada gapoktan dipatok Rp. 90 ribu per 50 kg atau satu sak. Adapun harga pupuk non subsidi mencapai Rp. 280 ribu per sak. “Para petani sebagian besar kalau mau memupuk kan beli, ternyata habis barangnya. Terus kecewa lah kami, orang di dusun kan terbatas SDM (sumber daya manusia)-nya,” katanya Minggu (22/11).

Tiap satu hektare dia membutuhkan sekitar dua sak pupuk jika lahan tergolong subur. Khusus lahan yang kurang subur membutuhkan hingga empat sak pupuk. “Yang ada sekarang cuma pupuk nonsubsidi. Kalau ada pun dari pengecer tidak diberikan semua ke gapoktan, tapi dijual ke orang luar gapoktan karena harga jualnya lebih mahal,” ujarnya.

Untuk kebutuhan pupuk di musim tanam berikutnya, Suwanto baru memenuhi setengah dari total kebutuhan. Padahal pemupukan harus dilakukan pada Januari mendatang. “Awal Januari harus sudah ada pupuk. Pupuk organik bisa juga, tapi hasilnya kurang maksimal. Padahal kita dituntut kuantitas,” jelasnya.
Salah seorang petani lain Sujito mengatakan, selain membeli pupuk nonsubsidi yang mahal, petani juga mengalami gagal panen akibat musim penghujan yang datang lebih cepat. “Sekarang hujannya maju jadi nggak bisa panen. Jadi harga pupuk yang mahal dan gagal panen,” terangnya.

Petani di gapoktannya kebanyakan menanam tanaman palawija seperti jagung. Mereka telah menanam sekitar Juli hingga Agustus. “Kelompok saya saja ada 30 hektare yang gagal panen, di Bambanglipuro,” katanya.

Untuk bisa mendapatkan pupuk bersubsidi, petani harus memiliki Kartu Tani. Namun belum semua petani memiliki kartu itu. “Yang sudah punya Kartu Tani pun juga masih kesulitan. Saat menggesek kartu untuk dapat pupuk subsidi, ternyata tidak masuk hitungan,” ungkapnya. (tor/laz) Editor : Editor Content
#Gagal Panen #Petani DIJ #non subsidi #Pupuk Bersubsidi.