Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah Mak Keti yang Tinggal di 4 Kilometer dari Puncak Merapi

Editor News • Kamis, 19 November 2020 | 02:41 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Sebuah universitas berdiri di kawasan rawan bencana (KRB) III Gunung Merapi. Uniknya tak ada mahasiswa atau kegiatan perkuliahan dalam kampus ini. Di dalamnya hanya ada seorang perempuan sepuh bernama Sudi Wiyono, 75.

Mak Keti, begitulah sosok ini akrab disapa. Tak merasa canggung, perempuan paro baya ini bercerita tentang sejarah Universitas Merapi. Kenyataannya, bangunan ini bukanlah civitas akademik. 

"Nama Universitas Merapi dibuatkan anak angkat saya yang relawan, namanya pak Hari Jaran. Saya juga tidak tahu alasannya, tahu-tahu dibuatin. Tapi memang sering dijadiin tempat kumpul relawan untuk memantau Merapi," cerita Mak Keti ditemui di kediamannya atau Universitas Merapi, Dusun Pelemsari, Umbulharjo Cangkringan, Rabu (18/11).

Sosok Mak Keti sendiri tak asing di telinga para relawan. Rumahnya kerap dijadikan markas bagi para relawan karena lokasi kediamannya sangatlah strategis. Berjarak sekitar 4 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Salah satu pengalaman tak terlupakan baginya adalah erupsi Merapi 2010. Kala itu anak bungsunya turut menjadi korban. Saat menjadi relawan, anaknya yang bernama Wahono juga tersapu awan panas erupsi Merapi.

"Wahono itu anak terakhir saya, sekarang anak tinggal 3. Dulu saat erupsi, dia lokasinya dekat rumah Mbah Maridjan. Saat itu yang jadi korban ada 36 warga termasuk anak saya," kenangnya.

Mak Keti sejatinya telah menghuni huntap Karang Kendal Umbulharjo. Hanya saja dia memilih untuk kembali ke kediaman lamanya. Setiap harinya, Mak Keti naik ke Pelemsari pukul 07.00, lalu pulang ke rumah pada sore harinya.

Walau masuk dalam KRB III, Mak Keti masih kerap naik ke rumah lamanya. Padahal keluarganya telah hijrah ke hunian tetap Karang Kendal Umbulharjo. Kondisi ini tentu menjadi perhatian. Terlebih radius 5 kilometer dari puncak Merapi memang harus dikosongkan selama status Merapi Siaga.

"Malam di bawah (hunian tetap), pagi di sini (rumah Pelemsari). Tidak betah kalau di bawah," katanya.

Tidak betahnya Mak Keti memiliki alasan tersendiri. Ibu tiga anak ini merasa rumahnya di huntap terlalu sempit. Alhasil dia tak leluasa untuk beraktivitas. Selain itu dia juga jenuh karena tidak bisa mencari rumput atau kayu bakar.

"Tidak betah, di bawah (huntap) tempatnya sempit. Saya kalau tidak kemana-mana badannya tidak enak. Di sini (rumah Pelemsari) bisa gerak, cari rumput atau kayu bakar," ujarnya.

Bukan tanpa risiko saat Mak Keti memilih pulang ke rumah lamanya. Acap kali dia mendengar suara gemuruh dari arah Gunung Merapi. Hanya saja dia tak panik. Baginya fenomena ini tergolong normal untuk gunung berapi.

Dari halaman rumahnya, Merapi terlihat sangat jelas. Ini pula yang menjadi pengingat baginya. Saat kondisi dirasa berbahaya, Mak Keti akan segera turun. Bergabung dengan warga lainnya di zona yang lebih aman.

"Gemuruh ya dengar, tapi kecil-kecilan saja. Kemarin (17/11) turun ke jurang ya dengar suara gemuruh jam 9 pagi, kalau kecil-kecilaan tidak apa apa. Relawan ada yang jemput ke sini, diajak turun, ya saya mau saja," katanya.

Lahir dan besar di lereng Gunung Merapi, menjadikan Mak Keti sedikit paham karakter sang gunung. Inipula yang membuat dia lebih peka terhadap kondisi. Sadar diri apabila tiba waktunya untuk mengungsi. 

Sebelum erupsi, Merapi, lanjutnya kerap menunjukan gejala alam. Seperti suara gemuruh hingga kepulan asap. Tapi adapula kondisi tanpa gejala. Salah satunya adalah erupsi pertama Merapi 2010. Saat itu dia mengingat tak ada gejala apapun. Tiba-tiba awan panas telah menyapu kawasan Kaliadem Kepuharjo.

"Tinggal di lereng Merapi sudah 75 tahun, sama dengan usia saya. Dari semua kejadian, paling besar memang 2010. Suaranya itu mas, minta ampun, (erupsi) yang pertama tidak dengar suara, lalu (erupsi) yang kedua itu suaranya kencang sekali," kenangnya.

Imbas dari fenomena alam ini, Mak Keti harus hidup nomaden. Pindah dari satu barak pengungsian ke barak pengungsian lannya. Hingga akhirnya menetap cukup lama di barak pengungsian Tridadi Kecamatan Sleman.

"Rumah habis semua, ternak habis. Waktu itu punya sapi 5, lalu ayam 100 ekor ludes. Enam bulan setelah erupsi sempat kembali ke rumah. Ada sisa tembok saya kasih terpal dan tidur situ. Lalu pindah ke huntap Karang Kendal," katanya. (dwi/tif) Editor : Editor News
#merapi siaga #universitas merapi #mak keti