Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Usir Yang Ngeyel, Diapresiasi Pengunjung Lainnya

Editor Content • Rabu, 2 September 2020 | 16:36 WIB
CIRI KHAS: Penampilan Wik Wik Ambyar saat menghibur pejalan kaki di jalur pedestrian Malioboro belum lama ini. Meski pengamen di Malioboro dia kerap diminta tampil di televisi nasional.(WINDA ATIKA IRA P/RADAR JOGJA)
CIRI KHAS: Penampilan Wik Wik Ambyar saat menghibur pejalan kaki di jalur pedestrian Malioboro belum lama ini. Meski pengamen di Malioboro dia kerap diminta tampil di televisi nasional.(WINDA ATIKA IRA P/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Sektor pariwisata menjadi salah satu yang amat terpukul adanya wabah Covid-19. Banyak cara yang dilakukan agar destinasi yang dijadikan gantungan penghidupan bisa kembali pulih. Ada sebuah langkah menarik yang dilakukan oleh Rianto Purnomo untuk langsung tancap gas menarik wisatawan untuk datang kembali. Dicaci pengunjung menjadi salah satu cerita yang disampaikannya.

Budi Agung, Purworejo, Radar Jogja

Keriuhan khas emak-emak dan anak-anak, langsung terdengar begitu masuk Pasar Inis. Sebagian besar pengunjungnya sudah memakai masker. Meski belum bisa menjaga jarak. Tapi protokol kesehatan diterapkan ketat di sana.

Destinasi wisata digital Pasar Inis sudah berdiri sejak tahun 2017. Berlokasi di Desa Brondongrejo, Kecamatan Purwodadi Purworejo, tempat ini memanfaatkan lahan sawah sebagai nilai jualnya. Namun bukanlah sebuah sawah biasa, namun tempat tersebut diolah sedemikian rupa, penuh dengan atraksi dan aktivitas yang selalu ditunggu oleh pengunnjung.

Ya, dibalik kesuksesan itu ada Rianto Purnomo, sosok seniman yang banyak bergelut dengan seni tari. Biasa tampil di depan publik menjadi modalnya untuk bisa mengolah destinasi minimal yang dimiliki untuk bisa mencuat dan menjadi salah satu tujuan wisatawan.

Dunia digital yang tengah mewabah digarap maksimal. Setidaknya empat hari menjelang hari Minggu, yang menjadi kegiatan pasarnya, selalu dibombardir dengan beberapa unggulan yang mendapat polesan baru. Tujuannya membuat orang penasaran dan selalu ingin menikmati dan mengikuti perkembangan yang ada di pasar tersebut.

Nah, terjangan pandemi covid-19 lalu juga telak dirasakan oleh dirinya serta warga yang memanfaatkan Pasar Inis untuk berjualan aneka jajanan tradisional. Aktivitas mereka bisa dikatakan mati, karena destinasi harus ditutup sehingga menutup pendapatan yang diperoleh saban minggu.

 

TRADISIONAL: Para pengunjung tempak memadati kawasan Pasar Kebon Watugede. Banyak makanan, minuman, jajanan tempo dulu, hingga permainan anak-anak yang dijajakan.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
TRADISIONAL: Para pengunjung tempak memadati kawasan Pasar Kebon Watugede. Banyak makanan, minuman, jajanan tempo dulu, hingga permainan anak-anak yang dijajakan.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
Warga menikmati suasana di destinasi digital Pasar Inis yang ada di Desa Brondongrejo, Kecamatan Purwodadi, Purworejo. ( BUDI AGUNG/RADAR JOGJA )

Bukan Rianto Purnomo jika tidak bisa menyikapi kondisi tersebut. Kebersamaan dengan warga, menjadikan Covid-19 sebagai momen untuk perbaikan diri, melakukan evaluasi dan langkah yang akan dilakukan saat covid-19 telah berlalu.

 

"(Tutup) Sejak Maret baru di 14 Juni kami kembali beroperasi. Pasar Inis buka setelah masa tanggap darurat Covid-19 itu dinyatakan selesai. Kami konsultasi ke dinas dan apa yang harus kami lakukan. Diarahkan jika memang semua siap, yang harus dilakukan adalah penerapan protokol kesehatan itu secara ketat," ungkap Rianto Purnomo, Selasa (31/8).

 

Penerapan protokol ketat itu juga memaksanya harus berjibaku dengan pengunjung yang ngeyel atau membandel. Mereka nekat datang tanpa menggunakan masker dan tidak mau mengikuti aturan yang ada. Untuk masalah itu, dia mengaku harus turun sendiri. Memberikan peringatan dan ajakan untuk bisa tertib namun malah berbuah salah persepsi dari pengunjung.

 

"Untuk kasus seperti itu saya memang ketat, sangat ketat malah. Kalau memang tidak mau, ya sudah. Silakan meninggalkan pasar. Saat orang itu pergi, saya malah mendapatkan sambutan dari pengunjung lain yang sudah mengikuti protokol," imbuh Purnomo.

 

Walaupun tutup dari aktivitas kunjungan, namun bukan berarti tidak ada aktivitas lain di Pasar Inis. Seluruh kru yang terlibat melakukan piket bergilir untuk melakukan perawatan terhadap lokasi. Untuk bisa bertahan dari covid-19, mereka membuat kebun sayur yang hasilnya dipetik oleh seluruh pengelola.

 

Dipilih jenis sayuran yang bisa cepat dipanen. Keberuntungan berpihak kepada mereka, setidaknya untuk kebutuhan beras sudah tercukupi karena baru panen padi. "Dan sayur yang ditanam itu memberikan keuntungan karena mampu menghemat pengeluaran dari keluarga," tambahnya.

 

Waktu kosong yang ada pun dimanfaatkan secara maksimal. Mereka malah berkesempatan untuk bisa melakukan pelatihan berkala, diskusi inovasi kuliner dan tidak kalah penting adalah pembahasan mengenai konten untuk iklan.

 

"Dan untuk iklan sendiri memang bisa kami rasakan sekarang. Dimana kami bisa terus menyajikan info-info terkini mengenai Pasar Inis ke publik. Ada beberapa akun yang kita libatkan sehingga orang bisa melihat jika Pasar Inis sudah siap dan aman untuk dikunjungi," katanya.

 

Benar saja, saat kembali dibuka, omset pedagang bisa kembali normal. Jika berbicara uang, omset sekali buka di Pasar Inis bisa mencapai Rp 6 juta. Pengunjung memang tidak dipungut biaya retribusi dan namun mereka disasar untuk menjajal dan membeli aneka kuliner yang ada.

 

"Kami melihat jika eksis tidaknya kita itu berasal dari kita sendiri. Bagaimana kita itu mengolah agar yang kita jual itu bisa diterima oleh masyarakat," jelas Purnomo. (pra) Editor : Editor Content
#Protokol Kesehatan #wabah Covid-19 #Purworejo