Transkripsi dan terjemahan selengkapnya di kerjakan oleh Dr W F Stutterheim dalam Inscripties van Nederlandsch Indie, aflevering I (Kon. Bat. Genootschap van Kunsten en Wetenscappen, Batavia 1940), dengan judul Oorkonde van Balitung uit 905 A. D. (Randoesari).
Jika Prasasti Poh berupa ukiran batu, Prasasti Mantyasih yang berupa tembaga. Tembaga Mantyasih terdiri atas dua lempengan tembaga berukuran panjang 49,3 cm dan lebar 22,2 cm. Dalam sejarah terkenal pula bernama tembaga Kedu. Transkripsi dan terjemahan serta uraian lengkap pernah ditulis oleh W F Stutterheim, seorang sarjana Belanda dalam karangannya berjudul Een belangrijke Oorkonde uit de Kedoe (dalam TBG, thn. 1927, hlm. 172-215).
Selain tembaga Mantyasih I juga pernah ditemukan prasasti batu yang disebut dengan Mantyasih II (dari Jawa Timur) dan juga selembar tembaga bertulis yang disebut Mantyasih III. Prasasti Mantyasih III berasal dari seorang penduduk desa Ngadirejo (Kedu) bernama Li Djok Ban dan sekarang tersimpan di Museum Jakarta. Prasasti Mantyasih I, II, dan III semuanya berasal dari raja Balitung (tahun 907 M).
Mantyasih diduga berasal dari kata Manti (panti, sangat, penuh) dan sih (cinta, kasih). Dengan demikian nama Mantyasih dapat diartikan cinta kasih yang sempurna, penuh. Bisa juga diartikan pengabdian dalam cinta kasih, atau dalam segalanya cinta kasih. (asa/din) Editor : Editor Content