Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Diponegoro Bukan Orang Haus Kekuasaan

Editor Content • Kamis, 9 Januari 2020 | 16:25 WIB
MAKNA SEJARAH: Ketua Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Adi) Ki Roni Sodewo menyampaikan sambutan di acara Haul Diponegoro di Museum BPK Kota Magelang kemarin (8/1). (AHMAD SYARIFUDIN/RADAR JOGJA )
MAKNA SEJARAH: Ketua Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Adi) Ki Roni Sodewo menyampaikan sambutan di acara Haul Diponegoro di Museum BPK Kota Magelang kemarin (8/1). (AHMAD SYARIFUDIN/RADAR JOGJA )
RADAR JOGJA - Ketua Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Adi) Ki Roni Sodewo menegaskan pentingnya menanamkan sejarah Pangeran Diponegoro di kalangan pemuda. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari berbagai peristiwa dalam Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro pada tahun 1825 sampai 1830.

”Tidak hanya soal kuda, keris, dan surban,” jelasnya saat ditemui usai Haul Diponegoro di Museum BPK Kota Magelang kemarin (8/1).

Sayangnya, menurutnya, masih banyak masyarakat yang hanya mengingat pahlawan dari penampilannya saja. ”Padahal, disebut pahlawan bukan karena penampilannya. Tetapi, karena apa yang sudah dilakukannya,” jelasnya.

Perang Jawa menyimpan banyak hikmah sejak awal hingga akhir perang melawan pasukan Hindia-Belanda tersebut. Termasuk motif di balik dimulainya Perang Jawa.

Menurut Ki Roni, Perang Jawa terjadi bukan karena tidak diangkatnya Pangeran Diponegoro sebagai sultan di Keraton Jogjakarta. Melainkan, tegasnya, karena penjajahan Hindia-Belanda.

Kalau Pangeran Diponegoro tidak berbuat sesuatu, mungkin sampai sekarang negeri ini masih terjajah. ”Orang selalu mengatakan Diponegoro perang karena tidak diangkat sebagai sultan. Perang karena tanahnya dipatok untuk bikin rel kereta api. Padahal, saat itu kereta api belum ada,” jelasnya.

Ki Roni menyatakan, Pangeran Diponegoro bukan orang yang haus kekuasaan. Dia menolak ditawari sebagai sultan. Bahkan, tawaran tersebut disampaikan hingga tiga kali. ”Sebab, jika ia (Pengeran Diponegoro menjadi sultan) akan menyalahi paugeran. Yang berhak menjadi sultan adalah Raden Mas Ambyah,” jelasnya.

Diponegoro menerima gelar Sultan Abdul Hamid Herucokro bukan sebagai penguasa tanah Jawa. Gelar yang didapatkannya saat di Goa Sriti ini merupakan gelar untuk menumpas berbagai bentuk kezaliman. ”Sultan Herucokro bukan penguasa Jawa,” jelasnya.

Sampai Perang Jawa berakhir, Diponegoro masih bersikap bijaksana. ”Korban sebagian besar pribumi. Jadi, harus diakhiri. Waktu itu banyak orang-orang pribumi di pihak Hindia-Belanda. Dulu nasionalisme belum ada,” jelasnya.

Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina, saat membacakan sambutan tertulis Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito, mengatakan, haul ini dilaksanakan tepat di hari meninggalnya Pangeran Diponegoro yakni 8 Januari 1855 atau 165 tahun silam. Pemkot Magelang merasa perlu mengadakan haul ini karena Diponegoro memiliki jejak sejarah penting di wilayah Kota Magelang.
”Banyak hal yang bisa dipetik dari kisah perjuangan Pangeran Diponegoro,” ujarnya. (asa/amd) Editor : Editor Content
#Haul Diponegoro di Museum BPK Kota Magelang #Museum BPK Kota Magelang