Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bermodalkan Lidah Buaya, Maju ke Provinsi

Editor News • Sabtu, 21 Juli 2018 | 16:18 WIB
KREATIF DAN INOVATIF: Warga RW 8 Kelurahan Jurangombo Utara, Magelang Utara, Kota Magelang, memanfaatkan lidah buaya untuk membuat aneka olahan. Mulai minuman nata de aloe, permen, teh hingga sampo antikutu. (FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA)
KREATIF DAN INOVATIF: Warga RW 8 Kelurahan Jurangombo Utara, Magelang Utara, Kota Magelang, memanfaatkan lidah buaya untuk membuat aneka olahan. Mulai minuman nata de aloe, permen, teh hingga sampo antikutu. (FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA)
MAGELANG - Tanah kosong yang berdekatan dengan Lapangan Voli di RW 8 Kelurahan Jurangombo Utara, Magelang Utara, Kota Magelang, kini menjadi tempat berkumpul warga. Setelah tanah milik Ibu Titik Lestari itu dimanfaatkan menjadi kebun bibit tanaman dan kolam lele. Tanah yang semula hanya ditumbuhi semak belukar dan kotor, akhirnya ditanami tanaman lidah buaya atau aloe vera.

“Sejak 2016 tanah tersebut kami buat untuk budidaya tanaman aloe vera. Kemudian berkembang ditanami dengan berbagai tanaman dan sayuran. Hingga akhirnya menjadi kebun bibit,” kata Ketua Kebun Bibit dan Kolam Lele RW 8 Ibu Nur Kholifah, Jumat (20/7).

Kendala muncul karena RW 8 yang juga dikenal sebagai Kampung Jagoan itu terkadang mengalami kesulitan air. Mengingat keterbatasan sumber mata air dan hanya mengandalkan air dari PDAM. Sehingga di atas tanah kosong itu tidak hanya dijadikan kebun, tetapi ada bagian yang dimanfaatkan untuk kolam plastik guna menampung air. “Agar tidak muncul nyamuk, kolam kami jadikan kolam lele,” tuturnya.

Melimpahnya hasil panenan lidah buaya, membuat mereka juga mulai berpikir soal pemanfaatannya. Lidah buaya kemudian diolah menjadi minuman nata de aloe, permen, teh, dan sampo anti kutu aloe lice. Pengelolaan kebun ini kemudian mendapat bantuan dari pemerintah pusat maupun Pemkot Magelang.

“Adanya bantuan ini membuat kebun kami bisa berkembang. Bahkan untuk produk aloe lice mendapat penghargaan dari Badan Litbang Pemkot Magelang atas nama Susi Ratnawati,” jelasnya.

Tidak hanya itu, untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan indah, warga berinisiatif mengolah limbah sampah. Mereka memberlakukan sampah dengan prinsip 3 R atau reduce, reuse dan recycle (mengurangi, memakai kembali dan mendaur ulang). Di antaranya mengolah sampah kemasan menjadi tas, taplak, celemek dan lain-lain. Kemudian menggunakan lagi lampu pijar dengan mengganti bagian tertentu. Termasuk mendaur ulang sampah organik menjadi pupuk cair dan kompos.

“Sebenarnya soal pengelolaan sampah sudah lebih dahulu dari pada kebun bibit, yakni mulai 2014. Tetapi dengan adanya kebun bibit itu pengelolaan sampah bisa ada tempat dan lebih berkembang,” ungkap Ketua RW 8 Jurangombo Utara Suseno.

Soal pengelolaan sampah, warga terus berinovasi dan dan berkreasi. Terbaru, mereka berhasil mengolah limbah minyak goreng menjadi sabun cuci. Sabun ini diklaim tidak mengandung deterjen dan mampu membersihkan noda berat.

“Pengolahan limbah minyak menjadi sabun ini hasil inovasi Ibu Retno Wulandari dari RT 2 RW 8. Semoga semua kegiatan ini menjadi inspirasi banyak pihak dan mampu memenangkan lomba tingkat Provinsi Jateng,” harap Kepala Kelurahan Jurangombo Utara Sumijan.

Saat ini Kelurahan Jurangombo Utara mewakil Kota Magelang maju ke Lomba Lingkungan Bersih Sehat tingkat Provinsi Jateng. Sebelumnya, kelurahan ini pernah memenangkan Lomba K3 dan Lomba Taman tingkat Kota Magelang, juga beberapa lomba lainnya. (dem/laz/mg1) Editor : Editor News
#Magelang #aloe vera #lidah buaya