"Yakni mahasiswadari FE, FT, FAI, FH, dan Fikes," ujar pria yang akrab disapa Agris.
Ditambahkan Poetri Mardiana Sasti dari Balai Bahasa Jawa Tengah bahwa pihaknya sengaja menghadirkan beberapa sastrawanhandal dari Magelang sebagai narasumber, seperti Triman Laksana dan Wicahyanti Rejeki. Selain itu ada Dekan FKIP Subiyanto MPd dan Peneliti Balai Besar Jawa tengah Kustri Sumiyardhana, sebagai narasumber. Selama tiga hari para peserta diberi materi antara lain tentang Penumbuhan Budaya Literasi di Kalangan Pendidik dan Peserta Didik, Pemahaman Kreatif Penulisan Cerpen,dan Praktek Penulisan dan Penyuntingan Cerpen.
"Di hari terakhir para peserta mengikuti praktek menulis cerpen. Hasil karya mereka akan dibukukan oleh Balai Pustaka. Melalui kegiatan ini diharapkan para peserta dapatlebih apresiatif terhadap cerpen, serta dapat meningkatkan kompetensinya dalam menulis cerpen," jelas Poetri.
Subiyanto dalam makalahnya bertemaMenumbuhkan Budaya Literasi di Kalangan Pendidik dan Peserta Didikantara lain mengatakan bahwa salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi persoalan lemahnya budaya literasi adalah dengan menggalakan Gerakan Literasi bagi Kalangan Pendidik dan Peserta Didik (GLPPD) yang dapat dijadikan pionir dalam meningkatkan budaya literasi baik di sekolah maupun di masyarakat.
Wicahyanti Rejeki juga membagi pengalamannya sebgai penulis cerpen melalui makalahnya bertemaMenulis Cerpen : Tangkap dan Jadikan. Di hadapan peserta Bengkel Satra, wanita yang telah banyak memenangkan perlombaan baca puisi itu berpesan agar cerita yang ditulis dibuka dengan paragraf yang menarik yang akan membuat pembaca penasaran. Cerpen diminta untuk dibuat dengan tujuan untuk mengejutkan pembaca dengan cerita yang tidak terduga.
"Menghadirkan konfilik, juga dilakukan saat menulis cerpen," tandas Wicahyanti. (ady/dem) Editor : Editor News