Goro, panggilan akrab bocah berusia delapan tahun ini, tak pernah melewatkan hari-harinya dengan berlatih memainkan wayang kulit. Memiliki latar belakang seniman, menjadikan ia juga gemar terhadap kesenian wayang kulit dan mendalaminya.
Siswa kelas 2 SD Kanisius Sumber putera pasangan FX Sutopo dan MF Titik Murpanjang ini merupakan satu seniman wayang kulit termuda di Magelang. Berbagai pentas sebagai dalang sudah sering lakukan.
Goro bahkan punya jadwal rutin pentas, yakni setiap malam Minggu Kliwon dalam acara selapanan di Panggung Gemilang. Sutopo, ayah Goro menceritakan, anaknya itu sudah memiliki bakat memainkan wayang kulit sejak usia enam tahun.
"Berawal dari senang mendengarkan acara wayang di radio, Goro cepat sekali tanggap sampai kemudian kami belikan wayang kulit. Tanpa sadar kami sering melihat ia memainkan wayang kulitnya dengan sangat fasih seperti dalang ternama," tutur Sutopo yang juga seorang pemain karawitan ini.
Melihat kemampuan anaknya yang semakin meningkat, ia lalu mengarahkan Goro agar lebih mendalami kesenian ini. Tetapi karena belum ada sanggar wayang di Magelang, seminggu sekali ia mengirim Goro ke kakeknya di Kalasan yang juga seniman wayang, untuk berlatih.
Karena keahliannya memainkan wayang serta beberapa kali pentas di berbagai acara, Goro didaulat oleh Dinas Pendidikan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengikuti ajang lomba dalang cilik di Kota Solo.
Titik Murpanjang, ibunda Goro yang juga seorang pesinden ini mengatakan, sebenarnya banyak bakat-bakat dalang cilik di Magelang. Tetapi tidak adanya sanggar belajar mendalang, jadi salah satu kendala dalang-dalang muda yang ada untuk belajar.
Goro dan keluarganya berharap pemerintah lebih memperhatikan kesenian di Magelang dengan mendirikan beberapa sanggar wayang kulit. Ini agar banyak peminatnya sehingga pada akhirnya kesenian ini tetap lestari. (cr2/laz/mg2) Editor : Editor News