Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Layaknya Company Profil, Angkat Potensi dan Kearifan Lokal

Editor News • Jumat, 17 Februari 2017 | 19:43 WIB
BIKIN FILM: Suasana workshop film oleh Dinas Kebudayaan DIJ dan Paguyuban Filmmaker Jogja yang diadakan di Pakem, Sleman, Rabu (15/2) lalu.(DWI AGUS/RADAR JOGJA)
BIKIN FILM: Suasana workshop film oleh Dinas Kebudayaan DIJ dan Paguyuban Filmmaker Jogja yang diadakan di Pakem, Sleman, Rabu (15/2) lalu.(DWI AGUS/RADAR JOGJA)
Dinas Kebudayaan DIJ tengah gencar mengenalkan dunia sinema kepada masyarakat. Salah satunya dengan melakukan pendampingan ke Komunitas Anggrek Liar Merapi Turgo, Pakem, Sleman. Program yang dikemas dalam tajuk Workshop dan Pembuatan Film Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Desa ini berlangsung selama sepekan.

DWI AGUS, Sleman

FILM tidak sekadar hiburan. Lewat film pula sebuah daerah bisa dikenal luas. Berangkat dari situ, Dinas Kebudayaan DIJ berharap masyarakat tergerak untuk membuat sebuah film. Bukan hanya menikmati film.

Kepala Seksi Perfilman Dinas Kebudayaan DIJ Sri Eka Kusumaning Ayu berharap masyarakat semakin melek terhadap sinema. Sebab, sebuah film merupakan bentuk promo potensi daerah.

"Tak ubahnya seperti company profile. Warga bisa mengangkat potensi dan kearifan lokal dengan media film. Kontennya lengkap, ada unsur edukasi juga," jelasnya di sela workshop, Rabu (15/2).

Eka menilai, keterlibatan komunitas sangatlah penting. Upaya dan peran pelestarian anggrek liar Gunung Merapi telah berlangsung lama. Hal ini bisa menjadi materi edukasi bagi khalayak luas. Film dianggap tepat karena jangkauannya yang lebih luas.

Dalam format film, warga bisa mengenalkan potensi melalui audio dan visual. Berbeda dengan foto yang hanya menampilkan visual saja. Dalam format film, dapat menjelaskan lebih detail tentang kegiatan komunitas.

Komunitas Pelestari Anggrek Liar Merapi sejauh ini sudah mengembangkan 100 jenis anggrek di sisi utara Merapi. Ini belum ternasuk pengembangan dan pemberdayaan kopi dan bambu.

"Setelah kami dampingi, mereka membuat sendiri filmnya. Hasilnya bisa diunggah ke situs video agar bisa dinikmati masyarakat luas," ujarnya.

Untuk menjalankan program ini, Dinas Kebudayaan DIJ menggandeng Paguyuban Filmmaker Jogja sebagai pendamping. Tugasnya berbagi ilmu dan mendampingi peserta mengenai pembuatan film. Sineas-sineas dilibatkan untuk mengenalkan bagian-bagian perfilman.

Sineas yang hadir di antaranya BW Purba Negara yang mengenalkan tentang ide cerita. Juga Khusnul Khitam yang mengajarkan penggunaan kamera. Ditutup oleh Bambang Ipoenk dengan materi pembagian kerja dan manajemen produksi hingga pascaproduksi.

"Setelah kegiatan workshop, peserta melaksanakan pengembangan cerita dan pembagian tugas yang akan didampingi oleh tim supervisor," kata salah satu tim pendamping Agni Tirta.

Agni menuturkan, Jogjakarta memiliki potensi besar perfilman. Mulai dari potensi alam, kearifan lokal hingga sumber daya manusianya. Langkah selanjutnya adalah membudayakan dunia film sebagai rutinitas harian.

Tujuannya agar masyarakat tidak hanya sebagai penikmat tapi juga kreator. Melalui sarana audio visual diharapkan masyarakat secara mandiri mengangkat potensi yang mereka miliki. "Film merupakan kekuatan baru bagi Jogjakarta, tidak hanya sebagai karya sinema tapi upaya pelestarian kearifan lokal," ujarnya.

Sementara itu, setelah di Sleman, kegiatan serupa akan diadakan di Gunungkidul dengan sasaran kelompok Pengajian Desa Semanu. (ila/mg2) Editor : Editor News
#Dinas Kebudayaan DIJ #Paguyuban Filmmaker Jogja #workshop #Pembuatan Film #company profile