Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ketemu Calon Istri saat Pameran, Komitmen di Aliran Ekspresionisme

Editor News • Jumat, 10 Februari 2017 | 19:27 WIB
Jeremia eka/radar jogja DIAKUI DUNIA: Umar Chusaeni berpose di depan salah satu karyanya yang dipajang di Galeri Lukis Tingal Kulon, Wonorejo, Borobudur, Kabupaten Magelang kemarin (9/2)
Jeremia eka/radar jogja DIAKUI DUNIA: Umar Chusaeni berpose di depan salah satu karyanya yang dipajang di Galeri Lukis Tingal Kulon, Wonorejo, Borobudur, Kabupaten Magelang kemarin (9/2)
Mengenal Umar Chusaeni, Pelukis Ekspresionisme yang Namanya telah Mendunia

Menjadi seniman lukis bukanlah profesi biasa. Terlebih, saat ini banyak pekerja lukis yang menjual karya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidak demikian dengan Umar Chusaeni yang bertekad tak akan berhenti melukis sebelum terkenal di kancah internasional.

JEREMIA EKA, Mungkid

Idealis dan konsisten. Itulah kepribadian Umar Chusaeni, seniman lukis asal Temanggung yang juga ketua Komunitas Seniman Borobudur 15 (KSBI 15). Meski karyanya telah mendunia, itu belum membuatnya berpuas diri. Pelukis aliran ekspresionisme yang mulai berkarya sejak 1996 itu bertekad akan terus menekuni profesinya untuk membumbungkan nama dan daerah asalnya di level internasional. "Karya saya mulai dikenal orang pada 2007. Dulu banyak juga yang mencibir," kenangnya ditemui di Galeri Lukis Tingal Kulon, Wanurejo, Borobudur kemarin (9/2).
Cibiran orang atas karyanya tak membuat Umar patah arang. Itu justru menjadi cambuk baginya untuk terus berkarya lebih baik. Di sadar, kala itu karyanya memang belum banyak dikenal orang. Apalagi jika dibandingkan dengan pelukis-pelukis kondang lainnya. "Bayangkan,selama sebelas tahun melukis tidak pernah ada orang yang mengenal apalagi membeli lukisan saya. Tahun 2007 itu kali pertama lukisan saya laku," ungkapnya.
Dari situ, kepercayaan diri Umar kian terbangun. Pun demikian dengan aliran yang digelutinya. Umar sadar, tak banyak orang, bahkan pecinta lukisan, yang paham dengan aliran yang dia geluti. Karena itu, tak mudah baginya meraih kesuksesan. Itu karena lukisan ekspresionis tak selalu menampilkan keindahan atau kecantikan. Tapi hanya berupa goresan idealis. Kendati demikian, Umar optimistis, pada saatnya nanti hasil karyanya bisa diterima publik dunia. Sebagaimana yang membesarkan nama almarhum maestro lukis Affandi.
Keyakinan Umar tak meleset. Karya-karyanya mulai dikenal orang ketika dia rajin mengikuti setiap ajang pameran. Baik skala lokal maupun nasional. Pelan tapi pasti, hasil karyanya makin dipercaya publik. Bahkan, setiap kali mengikuti pameran selalu ada hasil karyanya yang laku terjual. "Saya sendiri heran, sebagian besar penggemar lukisan saya justru dari luar negeri," katanya bangga.
Turis Jepang, Inggris, Amerika, dan Afghanistan tercatat sebagai kolektor karya Umar.
Seiring berjalannya waktu, pemilik Limanjawi Art House itu akhirnya mendapat kesempatan mengikuti pameran berskala internasional. Berkat bantuan beberapa relasi, pengelola Galeri Unik Dan Seni Borobudur (GUSBI) itupun memberanikan diri menjajal level dunia. Bahkan, saat pameran di Prancis dan Turki, Umar tak hanya memajang hasil karya-karyanya. Di Benua Eropa Umar juga membuat karya lukis.
Nah, dari beberapa kali mengikuti pameran lukisan internasional itulah Umar menemukan pujaan hatinya, Yasumi Ishii, pelukis asal Jepang. Hingga akhirnya, Umar mempersunting Yasumi sebagai istri.
Saking seringnya pameran di luar negeri, Umar terpantik untuk menggelar acara serupa di negeri sendiri, dengan menghadirkan karya pelukis-pelukis dunia. Dari situ dia berencana mengadakan pameran "Borobudur To Day 2017" dengan tema "The Balance". Dalam ajang itu pula Umar ingin mempertemukan pelukis dunia dengan seminal lokal dan nasional. "Acara itu tak khusus pameran lukisan. Ada
kesenian tari,pantomim,membaca puisi,musik, dan lain-lain," katanya.
Melalui acara itu pula Umar berharap bisa menginspirasi seniman-seniman muda agar terus berkarya meski ada yang mencibir atau tak menghargai karya mereka. "Jangan pernah berhenti berkarya sebelum ada pengakuan dunia. Terus berjuang," tuturnya.(yog/mg1) Editor : Editor News
#Komunitas Seniman Borobudur 15 #asal Temanggung #Seniman lukis #Umar Chusaeni