Kali ini, awak pers ingin rehat sejenak. Karenanya, dalam acara tersebut para wartawan tak melakukan kegiatan peliputan. Sebaliknya, mereka meminta seluruh pejabat yang hadir untuk alih profesi sejenak, menggantikan tugas jurnalis. Tak terkecuali Ketua DPRD Sariyan Adi Yanto, Wakil Ketua DPRD Yogyo Susaptoyono, Wakil Bupati M. Zaenal Arifin,Kapolres AKBP Hindarsono, dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Edy Susanto. "Karena hari ini kami yang berulang tahun. Jadi gentian para pejabat yang bertugas sebagai wartawan," canda Ch Kurniawati selaku pembawa acara bertema kenduri alam.
Jurnalis senior itu lantas mengerjai para pejabat dengan memberikan kamera kepada mereka. Kelima pejabat yang hadir pun menuruti permintaan tersebut. Mereka lantas berlagak layaknya jurnalis profesional dan meliput kegiatan, mulai potong tumpeng, pelepasan ikan dan burung, serta penanaman 200 bibit pohon.
Ketua HPN 2017 Bagyo Harsono mengatakan, peringatan hari pers kali ini sengaja difokuskan untuk pelestarian alam. Dikatakan, para jurnalis Magelang ingin menjadi pelopor dalam perlindungan habitat alam Gunung Merapi. "Semoga kegiatan seperti ini akan terus berlangsung guna mempertahankan kelestarian alam," harapnya.
Zaenal Arifin mengaku sangat apresiatif dengan kegiatan awak media Magelang. Selain menarik, kegiatan tersebut dinilai unik. Banyak nilai positif yang bisa diambilnya. "Yang pasti saya bisa merasakan bagaimana menjadi wartawan. Kedua, belajar menjaga kelestarian alam," katanya.
Sementara itu, perayaan HPN 2017 di Kota Jogja diwarnai aksi unjuk rasa dan teatrikal oleh mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Tidar 21, Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang di Alun-Alun Kota Magelang. Dalam kesempatan itu mereka mengajak masyarakat lebih berhati-hati menyikapi perkembangan informasi tidak valid (hoax) yang tersebar luas.
"Masyarakat harus kritis dan berhati-hati mengonsumsi berita. Jangan mudah terprovokasi dengan informasi yang masih abstrak sumbernya," ujar Anis Thile, salah seorang peserta aksi.
Thile berharap, seiring perkembangan teknologi, pers mampu menjadi wahana komunikasi massa dengan menyajikan berita yang akurat dan terpercaya. Bukan kabar burung yang bernuansa provokasi.
Aksi damai tersebut memanfaatkan momentum HPN untuk menyampaikan uneg-uneg mahasiswa terkait masih adanya media partisan yang tidak berpihak ke masyarakat. Tapi malah menyokong kelompok tertentu."Kami mengkritik media yang masih berpihak pada penguasa dan para pemilik modal," tegasnya.
Thile menengarai, saat ini banyak penguasa yang menyuap pemilik perusahaan media massa agar memberitakan sesuatu sesuai keinginan mereka. Sehingga para wartawan yang ingin mencari kebenaran justru terkekang aturan pimpinan perusahaan masing-masing. "Seperti berita-berita hoax. Sarat ditunggangi kepentingan politis," kata Cindia, peserta aksi lainnya. Menurutnya, informasi hoax telah mendiskreditkan fungsi pers sebagai control sosial dan penyambung lidah rakyat.(cr2/ady/yog/mg2) Editor : Editor News