Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perilaku Aji Mumpung, Rusak Citra Pariwisata

Administrator • Minggu, 1 Januari 2017 | 19:31 WIB
Photo
Photo
RADARJOGJA.CO.ID - JOGJA – Predikat DIJ sebagai salah satu destinasi utama pariwisata di Indonesia dipertaruhkan. Jogjakarta memang masih jadi salah satu tujuan utama, terbukti dengan banyaknya wisatawan yang datang. Tapi, sayangnya sebagian pelaku pariwisatanya belum bisa menjadi tuan rumah yang baik.

Perilaku aji mumpung pada liburan akhir tahun, dengan menaikkan harga jamak ditemui. Di media sosial (medsos) kembali menjadi viral perilaku pelaku wisata di Alun-Alun Kidul Jogja yang menaikkan tarif. Sebelumnya juga ramai diperbincangkan PKL yang menaikkan harga makanan hingga tarif parkir yang ditentukan sendiri.

Menurut Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) DIJ Udhi Sudiyono, perilaku aji mumpung menaikkan harga tersebut bisa menjadi kampaye negatif bagi pariwisata DIJ. Terlebih ketika sudah tersebar di medsos, yang bisa dibaca oleh seluruh warga dunia.

Udhi mengatakan, tidak mudah membangun image suatu objek wisata. "Meski mungkin itu oknum, tapi perilaku seperti itu akan menjadi kampanye negatif," ungkapnya.

Udhi mengatakan, saat peak season liburan seperti ini, Jogja masih menjadi salah satu tujuan utama. Tapi dengan adanya perilaku negatif seperti itu, bisa membuat wisatawan tidak nyaman. Yang dikhawatirkan, pengalaman negatif tersebut akan diceritakan ke teman atau saudaranya, "Yang pasti buatlah wisatawan nyaman di Jogja, sehingga liburan mendatang ke sini mengajak teman atau saudaranya," ungkap Udhi.

Untuk itu, pihaknya menyarankan supaya pelaku wisata dan pemerintah darah setempat bisa duduk bersama dan menentukan berapa kenaikan yng diperbolehkan selama peak season.

"Naik (harga) bolehlah tapi yang wajar. Kalau bisa ada tuslah seperti kalau di angkutan," harapnya.

Selain itu, yang perlu diperhatikan, sambungnya, adalah pelayanan ke wisatawan, juga tidak boleh menurun. "Karena banyak yang antre, terus dilayani seenaknya," lanjutnya.

Senada, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Kota Jogja Prawono Wowon juga menilai hal serupa. Sebagai pihak yang biasa mendampingi wisatawan, Wowon mengaku selalu menyarankan memilih penjual yang memasang daftar harga. "Selalu kami sarankan pilih yang ada daftar harganya, jadi jelas," ungkapnya.

Tidak hanya unutk tempat makan, penempelan daftar harga juga pada tarif parkir atau sewa jasa. Wowon mencontohkan, seperti tarif sewa naik kuda di Pantai Parangtritis, yang sudah ditetapkan Rp 20 ribu.

Dia menyayangkan pelaku wisata di Alun-Alun Kidul yang menaikkan harga hingga berlipat-lipat. "Setahu saya normalnya itu Rp 30 ribu, kalau sampai Rp 150 ribu itu nuthuk banget," kecamnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata DIJ Aris Riyanta mengaku sudah berulangkali mengingatkan pada semua pelaku wisata di DIJ supaya bisa menjadi tuan rumah yang baik. Termasuk tidak menaikkan harga berlebihan.

"Ojo aji mumpung, sudah berulang kali itu saya sampaikan, tapi kok ya masih ada yang melanggar," ujarnya.

Dispar DIJ sendiri, akunya, juga sudah berulang kali mengajak kelompok sadar wisata (pokdarwis) mengikuti bimbingan maupun pelatihan. Harapannya mereka yang bisa memonitor di lapangan jika terjadi pelanggaran. Termasuk pemasangan daftar harga.

"Dinas ki yo kurang opo, sudah sering mereka kami beri pelatihan. Dinas kan tidak bisa memelototi tiap hari, itu jadi tugas pokdarwis," ungkapnya.

Menurut Aris, belum ada laporan yang masuk ke Dispar DIJ terkait hal itu, tapi pihaknya juga turut memantau yang sedang diperbincangkan di medsos. Diakuinya dengan menjadi viral di medsos, justru merugikan objek wisata tersebut.

"Saat ini mungkin mereka dapatnya banyak, karena menaikkan harga, tapi setelah itu tidak ada lagi yang datang, apa itu yang mereka minta," ujarnya setengah bertanya.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X juga berharap masyarakat DIJ bisa menjadi tuan rumah yang baik dengan menumbuhkan rasa nyaman dan aman kepada semua wisatawan. "Bagaimanapun, wisatawan itu kan tidak hanya datang dari luar daerah, tapi juga luar negeri, rasa aman dan nyaman itu harus masyarakat Jogja sendiri yang menumbuhkan," ujarnya. (pra/dya/ila/ong) Editor : Administrator
#wisata jogjakarta #wisata jogja #Pariwisata #obyek wisata jogja