Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Nugroho Imam Setiawan, Satu-satunya Orang Indonesia yang Ikut Ekspedisi ke Kutub Selatan

Administrator • Kamis, 17 Maret 2016 | 19:56 WIB
Photo
Photo
Dok Nugroho Imam for Radar Jogja
LATIHAN SURVIVAL: Perjalanan menuruni gunung bersalju. Dr Nugroho Imam Setiawan (UGM) berada paling depan.

Tugasnya Teliti Batuan Metamorf di Antartika


Penelitian terhadap bumi terus dilakukan. Terutama untuk melihat sejarah dan masa depan planet yang dihuni manusia ini. Kesempatan ini pun didapatkan Nugroho Imam Setiawan, ST, MT, Ph.D. Doktor muda teknik dari UGM ini mendapatkan kesempatan meneliti kutub selatan atau Antartika.

DWI AGUS, Jogja
Terlahir di negara tropis Indonesia tidak menutup kemungkinan seseorang meneliti antartika. Kesempatan inilah yang didapatkan seorang Nugroho Imam Setiawan. Setelah berjuang cukup lama, dirinya terpilih untuk melakukan riset di daratan yang sepenuhnya tertutup es ini.

Untuk meneliti antartika, dosen Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM, ini bergabung bersama Japan Antartic Research Expedition (JARE). Ia terpilih mengikuti kegiatan penelitian masa depan planet bumi di Antartika. Rencananya, penelitian akan dilaksanakan selama dua bulan, Januari hingga Februari 2017 mendatang.

Kehadiran Nugroho dalam tim ini sendiri patut dibanggakan. Pasalnya, ia merupakan satu-satunya warga Indonesia yang bergabung. Bahkan Nugroho merupakan satu-satunya anggota tim ekspedisi yang berasal dari kawasan Asia Tenggara.

"Berhasil lolos dan masuk dalam tim JARE 58 melalui proses seleksi wawancara dan rekomendasi. Banyak peneliti yang mendaftar ekspedisi ini seperti dari Malaysia, Myanmar, Vietnam, Kamboja, Laos, dan lainnya, tetapi yang terpilih hanya dari tiga negara yaitu Indonesia, Srilanka, dan Mongolia," jelasnya kemarin (16/3).

Nugroho menjabarkan, JARE 58 terdiri atas 64 peneliti. Mayoritas anggotanya berasal dari Jepang, dengan komposisi 61 orang dari negeri matahari terbit itu, dan tiga peneliti yang lolos seleksi. Konsep dari penelitian ini adalah mempelajari kutub selatan atau Antartika.

JARE 58 mengutamakan para peneliti dan ilmuwan dari negara Asia yang belum memiliki basecamp di Antartika. Para peneliti ini dilibatkan secara langsung dan bergabung sebagai observer melalui program Asian Forum for Polar Sciences (AFOPS).

"Di sini saya bergabung sebagai observer dan masuk dalam tim geologi. Tugasnya meneliti batuan metamorf di Antartika. Masuk ke tim ini atas pertimbangan persyaratan dasar adalah spesialisasi keilmuan di bidang batuan metamorf," ungkap lulusan Kyushu University, Jepang, ini.

Sebuah latihan khusus pun dijalani oleh Nugroho dan timnya. Tujuannya untuk mempertajam kemampuan survival selama melakukan riset di Antartika. Ini karena perbedaan iklim sangat terasa. Terlebih Nugroho berasal dari Indonesia dengan latar belakang negara tropis.

Pelatihan survival ekspedisi ini bertajuk Winter Camp Training. Digelar dari tanggal 7-11 Maret lalu di Jepang. Secara khusus pelatihan ini diselenggarakan oleh National Institute of Polar Research (NIPR) yang merupakan organisasi resmi penyelenggara JARE.

"Tujuan dari training ini untuk mempersiapkan anggota tim ekspedisi. Iklim dan cuaca di sana sangat ekstrem. Dengan bekal survival ini akan memperlancar kita dalam melakukan riset," jelasnya.

JARE 58 akan memulai tugas perdana mereka akhir November 2016. Sedangkan untuk inti dari riset akan dilakukan pada medio Januari hingga Februari 2017. Setelahnya, tim akan kembali dari Antartika pada Maret 2017.

Dalam riset ini, JARE 58 tidak hanya meneliti geologi. Terlihat dari anggota tim yang berasal dari disiplin ilmu yang berbeda-beda. Mulai dari geografi, geologi, oseanografi biologi, geofisika, sedimentologi, astronomi, glasiologi, dan yang lainnya. Masing-masing tim riset pun memiliki kurikulum training yang berbeda-beda.

Geolog muda ini menjabarkan selama proses pelatihan dirinya justru mendapatkan ilmu baru. Mulai dari bertahan hidup di alam liar hingga memanfaatkan peta alam. Bekal ini penting karena seorang geolog sepertinya kerap melakukan penelitian di alam.

"Termasuk menemukan rute jalan pulang ketika tersesat dalam ekspedisi. Pengalaman yang terlupakan lainnya adalah berjalan di salju dengan teknik climbing iron, melakukan evakuasi jurang, hingga pelatihan tidur di bivax dan lainnya," terangnya.

Menjalani pelatihan ini tentu menjadi pengalaman baru bagi Nugroho. Bahkan di awal pelatihan ia mengaku sempat canggung. Pasalnya, dari seluruh peneliti hanya ia yang berasal dari negara tropis. Tentunya diperlukan penyesuaian yang lebih bagi tubuhnya untuk beradaptasi.

Di sisi lain, dirinya bangga dapat bergabung dalam JARE 58. Ekspedisi Antartika, baginya adalah sebuah pengalaman dan eksperimen untuk memperdalam ilmu. Ia pun berencana menyusun sebuah makalah terkait evolusi dari batuan metamorf di Antartika.

"Akan lebih baik lagi jika pemerintah Indonesia mau membuat basecamp riset di Antartika. Ini karena kondisi alamnya hanya bisa kita temukan di Antartika," tandasnya. (laz/ong) Editor : Administrator
#UGM #kutub selatan