BERDAYAKAN PETANI: Sekolah lapang ini memberikan cara-cara pembuatan pupuk organik cair dengan menggunakan mikro organisme lokal (MOL) di rumah warga.
Dengan Pupuk MOL, Waktu Panen Bisa Lebih Cepat
Petani di Lereng Merapi memiliki cara tersendiri untuk mengembangkan potensi sumber daya manusianya. Kelompok tani berupaya memberikan pemahaman dan kesempatan kepada anggotanya agar bisa berkembang. Salah satu caranya melalui gerakan Sekolah Lapang Agribisnis Pengembangan Pertanian Organik di Dusun Wuni, Sewukan, Dukun.
ADI DAYA PERDANA, Mungkid
Para kelompok tani (Poktan) Ngudi Makmur 1 dusun itu mengikuti Sekolah Lapang Pengembangan Pertanian Organik. Jangan dibayangkan sekolah ini kegiatanya di ruang kelas dan penuh dengan meja dan kursi. Tetapi sekolah ini memberikan cara-cara pembuatan pupuk organik cair dengan menggunakan mikro organisme lokal (MOL) di rumah warga.
Kegiatan sekolah lapang yang dijadwalkan 22-25 Februari ini diikuti khusus Kelompok Tani Ngudi Makmur 1. Sekolah lapang merupakan salah satu upaya dari salah satu petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BPPPK) Kecamatan Dukun Anita Widiastuti AMd. Koramil 15 Dukun juga turut serta dalam kegiatan itu.
"Sekolah lapang ini sangat bermanfaat bagi para petani. Setelah mampu membuat pupuk MOL sendiri, petani akan lebih irit dalam pembiayaannya," ujar Decky Riswantio, Kepala Desa Sewukan, Kecamatan Dukun.
Pupuk organik cair yang dibuat Poktan Ngudi Makmur 1 itu adalah pupuk yang menggunakan bahan baku yang mudah didapat di sekitarnya. Sekolah lapang ini membuat pupuk cair yang mengandung unsur nitrogen, phospat dan kalium. Unsur-unsur ini merupakan unsur yang sangat dibutuhkan tanaman.
Ketua Poktan Ngudi Makmur 1 Edi Kusnawan mengatakan, pupuk MOL ini sudah dibuktikan pada tanaman padi. Padi ditanam di lahan percontohan dusun itu, di dua petak sawah dengan luas 0,2 hektare milik Suwandi dan Mardi. Dari hasil panen di lahan percontohan itu diperoleh 6,7 ton gabah kering panen. Hasil ini merupakan hasil yang cukup bagus dibanding panen sebelumnya. "Dengan pupuk MOL ini panen bisa lebih cepat waktunya," ujar Edi.
Pada kesempatan itu, para peserta Sekolah Lapang mendapat pelajaran cara membuat pupuk organik cair yang diberikan Anita Widiastuti, PPL BPPPK Kecamatan Dukun. Ia menjelaskan pupuk organik cair dengan bahan baku kulit nanas merupakan pupuk cair mikro organisme lokal yang mengandung nitrogen. Pupuk itu sangat baik untuk memacu pertumbuhan tanaman pada tahap awal. Pupuk ini baik digunakan saat pengolahan tanah sampai tanaman usia muda. Yaitu berkisar umur sampai dengan 10, 20, 30 atau 40 hari setelah tanam.
Selain kulit nanas, bahan baku juga bisa menggunakan pepaya, limbah sayuran, rebung serta keong mas (siput). Ia juga menyampaikan pupuk dengan mikro organisme lokal yang mengandung unsur phospat. Pupuk ini sangat baik untuk pembungaan atau pembuahan pada tanaman.
Dijelaskan, untuk membuat pupuk ini para peserta menggunakan bahan baku dari nasi sisa (sego wadang), daun bambu kering, bonggol pisang dan kulit buah coklat. Namun karena bahan baku kulit buah coklat sulit didapat, maka petani Sewukan jarang tidak menggunakannya sebagai bahan baku pupuk MOL. Pupuk ini digunakan masa pertumbuhan vegetatif atau 50 hari setelah tanam.
"Bonggol pisang dicacah kemudian dicampur dengan tetes tebu sampai tumbuh jamur. Kemudian dicampur air. Air yang mengandung mikro organisme lokal itulah yg dipakai untuk pemupukan," urai Anita.
Sabut kelapa juga merupakan bahan baku untuk membuat pupuk MOL yang mengandung kalium. Sabut kelapa ditumbuk kemudian direndam dalam air dan ditambah tetes tebu, direndam sekitar tujuh hari. Satu buah sabut kelapa yang sudah ditumbuk direndam dengan lima liter air dan dicampur seetengah gelas tetes tebu.
"Jenis pupuk MOL ini merupakan pupuk yang berfungsi untuk penguatan tanaman agar tahan penyakit dan hama. Selain itu, sekolah lapang ini juga membuat pestisida nabati yang terbuat dari rempah-rempah untuk mencegah dan mengendalikan hama," ungkapnya. (laz/ong) Editor : Administrator