Kepala DKK Purworejo Kuswantoro didampingi Kabag Humas Joko Saptono memberikan paparan mengenai jumlah dan penanganan kasus demam berdarah di Purworejo, di ruang Bagelen kompleks Kantor Bupati Purworejo, kemarin.
PURWOREJO-Kasus demam berdarah dengue (DBD) mengalami peningkatan signifikan. Selama Januari hingga Februari ini terjadi 115 kasus. Rinciannya, pada Januari 61 kasus, dan 54 kasus di Februari. Padahal di periode yang sama pada tahun sebelumnya, hanya ada 25 kasus di Januari dan 14 di Februari.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo Kuswantoro mengkaui, memang ada peningkatan kalau dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. "Tapi sampai saat ini tidak ada korban meninggal akibat demam berdarah," ujar Kuswantoro di ruang Bagelen Kompleks Kantor Bupati Purworejo,kemarin (7/3).
Kuswantoro mengakui memang ada laporan korban meninggal akibat demam berdarah. Namun, setelah dilakukan penelusuran ternyata ada penyebab lain. Bukan karena DBB. "Kami sudah turun ke lapangan dan mendapat laporan kalau meninggalnya karena accident dengan penyakit lain," tambahnya.
Selama ini, lanjut Kuswantoro, dalam melakukan penanganan demam berdarah, yang dilakukan adalah fogging atau pengasapan. Hanya saja langkah itu dinilai kurang efektif karena hanya akan membunuh nyamuk dewasa. "Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Sementara jentik-jentik akan tertinggal dan tetap menjadi penyebab adanya demam berdarah. Di sini yang diperlukan adalah peran serta masyarakat dalam mengatasi jentik-jentik yang ada," ungkapnya.
Belajar dari pengalaman Kota Semarang yang lebih banyak melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dibandingkan fogging, memang lebih efektif. Setidaknya ada efisiensi secara anggaran dan efektif untuk penangannya. "Kami ingin masyarakat berperan. Jangan hanya mengandalkan fogging. Tapi juga melakukan PSN secara serentak dan rutin," katanya.
Untuk tahun ini, pengasapan tetap dilakukan Dinkes. Hingga saat ini sudah dilakukan 10 kali kegiatan fogging. (cr2/din/ong) Editor : Administrator