Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Melihat Geliat PKL di Purworejo, Adakan Kerja Bakti Sebulan Sekali

Administrator • Jumat, 4 Maret 2016 | 00:19 WIB
Photo
Photo
BUDI AGUNG/RADAR JOGJA
SEMPROT: Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) tengah membersihkan kotoran yang menempel di trotoar dengan bantuan semprotan air di Alun-Alun Purworejo, kemarin (2/3).

Manjakan Konsumen, Iuran Membeli Alat Kebersihan


Makan di tempat nyaman dan bersih akan menarik pembeli. Sebaliknya, seenak apapun menu yang ditawarkan jika kesannya jorok dan bau, lambat laun akan ditinggalkan pelanggan. Oleh karena itu, puluhan pedagang kaki lima kerja bakti menjaga lingkungan demi kenyamanan pembeli.

BUDI AGUNG, Purworejo

ALUN-Alun Purworejo diyakini sebagai lapangan terbuka hijau terbesar di Indonesia. Berada tepat di jantung kota, seperti lazimnya kota peninggalan Belanda, diapit beberapa bangunan pokok. Seperti halnya kantor bupati dan rumah dinas bupati. Di bagian barat terdapat masjid dan bagian timur terdapat gereja. Terdapat pula rumah tahanan yang tidak jauh dari lokasi tersebut.

Sebagai tempat publik, tak ayal alun-alun yang keberadaannya diprakarsai Bupati Pertama Purworejo RAA Cokronegoro itu, menjadi lokasi yang nyaman untuk bersantai. Munculnya keramaian di lokasi itu, tak pelak mengundang masyarakat yang memiliki jiwa bisnis untuk turut mengadu peruntungan.

Hasilnya, puluhan lapak muncul di kedua sisi alun-alun yakni bagian barat dan bagian timur. Di bagian selatan dan utara, pemkab secara tegas melarang keberadan pedagang untuk membuka lapak. Itu dimaksudkan memberikan ruang gerak lebih bebas pada masyarakat saat malam hari.

Keberadaan pedagang kaki lima (PKL) kuliner ternyata sempat menjadi masalah bagi pemkab. Salah satunya, kebiasaan jorok sejumlah pedagang. Saluran pembuangan air yang mengelilingi alun-alun menjadi saluran untuk membuang limbah. Belum lagi, minyak percikan dari penggorengan banyak menempel di trotoar dan memunculkan warna hitam dan licin.

Tidak mau dicap sebagai biang bopengnya wajah kota, pedagang di Alun-Alun Purworejo yang tergabung dalam Paguyuban PKL Pendowo rutin mengagendakan operasi pembersihan lokasi jualan. Tidak sebatas membersihkan lapak sendiri, namun mereka memiliki tanggung jawab bersama mengatasi noda yang ada.

"Kegiatan pembersihan alun-alun ini rutin kami lakukan setiap bulan. Bisa di akhir atau awal bulan," kata Ketua PKL Pendowo Tri Kurniawan, 40, saat memimpin pembersihan trotoar alun-alun bagian timur, kemarin (2/3).

Menurutnya, kegiatan itu telah berjalan sekitar dua tahun atau selama dirinya dipercaya sebagai ketua. Dalam pembersihan, tidak mengandalkan bantuan dari Bidang Pertamanan dan Kebersihan Dinas Pekerjaan Umum. Sebab, pedagang sudah sepakat untuk iuran.

Dijelaskan, iuran ini dipungut setiap malam. Setidaknya mereka telah memiliki mesin pompa air, cangkul dan beberapa alat pendukung yang lain.

"Kami tidak pernah meminta bantuan dari pemerintah, dan kami mengadakan sendiri alat-alatnya," ungkapnya.

Hal itu, lanjut Tri, karena didasari keinginan pedagang untuk membantu program kebersihan pemkab. Di sisi lain, mereka juga ingin membuat pelanggan makin betah berada di lapak. "Kalau tempatnya kotor, bisa jadi orang akan kapok datang lagi," terang Tri.

Dia mengatakan, hingga kini keanggotaan paguyubannya mencapai lebih dari 100 orang. Keanggotaannya ada dua jenis yakni pedagang yang khusus berada di sepanjang trotoar dalam alun-alun dan pedagang yang berada di seberang jalan.

"Dalam kegiatan ini semuanya dilibatkan. Biasanya dimulai pukul 08.00 WIB sampai selesai. Kalaupun tidak bisa datang ya tidak apa-apa, mungkin sedang ada kegiatan lain yang mendesak," katanya.

Terpisah, Kepala Bidang Pertamanan dan Kebersihan DPU Purworejo Mulyono mengapresiasi upaya kerja bakti PKL Pendowo. Walaupun tidak bersinggungan langsung dengan PKL, karena mereka berada di bawah naungan Bidang Koperasi dan UMKM Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan, dan Pariwisata (Dinkoperindagpar), tapi langkah PKL layak diacungi jempol.

"Secara rutin seminggu sekali kami membersihkan saluran air, karena kalau dibiarkan akan menimbulkan bau tidak sedap. Ada upaya kerja bakti dari para pedagang tentu kami sambut dengan baik," kata Mulyono. (ila/ong) Editor : Administrator
#PKL #Purworejo