Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

PUASA DI NEGERI PANDA

Administrator • Selasa, 30 Juni 2015 | 20:41 WIB
Photo
Photo
Sudaryanto, M.Pd.
Dosen Prodi PBSI UAD;
Pengajar Tamu di GXUN, Tiongkok
APA hubungan antara puasa dan panda? Apakah hewan khas dari Tiongkok itu juga melaksanakan puasa layaknya manusia: tidak makan dan minum? Dua pertanyaan itu barangkali muncul di benak Anda. Agar tak menimbulkan pertanyaan ini-itu lagi, baiklah saya akan uraikan sebagai berikut. Kita mulai dari istilah "Negeri Panda" sebagai salah satu kreasi saya guna merujuk tempat saya bekerja saat ini, Republik Rakyat Tiongkok.Ya, Tiongkok selama ini dikenal dengan julukan "Negeri Tirai Bambu". Dengan penduduk sebanyak 1,3 miliar orang, Tiongkok menjadi negara berpopulasi terbesar di dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 juta orang merupakan umat Muslim. Konsentrasi terbesar ditemukan di bagian barat Laut Tiongkok, yaitu Provinsi Xinjiang, Ganshu, dan Ningxia, lalu Provinsi Yunnan di bagian barat daya dan Provinsi Henan di bagian tengah (Kartini, 2012).Sementara itu, Kota Nanning, ibukota Provinsi Guangxi, tempat saya tinggal kini, jumlah umat Muslim tidak sebesar kelima daerah di atas. Umat Muslim di Kota Nanning terdiri atas Muslim pribumi (orang Tiongkok asli) dan Muslim non-pribumi (orang asing). Muslim pribumi umumnya berasal dari suku Hui dan Xinjiang, sedangkan Muslim non-pribumi berasal dari Indonesia, India, Pakistan, Bangladesh, Mauritania, Perancis, dll.Dari segi pekerjaan, Muslim pribumi umumnya berdagang roti, kismis, daging kambing dan sapi, hingga mengelola restoran dan kantin halal. Di Kota Nanning, ada tiga kampus yang memiliki kantin halal, yaitu Guangxi Medical University (GXMU), Guangxi University (GXU), dan Guangxi University for Nationalities (GXUN). Sementara itu, Muslim non-pribumi umumnya mahasiswa yang sedang menempuh studi, baik S-1 maupun S-2.Muslim pribumi dan non-pribumi tetap beraktivitas sehari-hari, kendatipun tengah melaksanakan ibadah puasa Ramadan. Buktinya, restoran lantai 1 dan 2 Masjid Kota Nanning tetap dibuka pada pagi dan siang hari. Sementara itu, perkuliahan di setiap kampus tetap berjalan seperti biasa. Tak ada pengurangan jam kuliah seperti di Indonesia. Belum lagi suhu udara di sini yang terasa cukup panas, sekitar 33-40 derajat Celcius.Waktu berpuasa di sini lebih lama di banding kan dengan di Indonesia. Di Indonesia, waktu berpuasa sekitar 13 jam, sedangkan di sini mencapai sekitar 15 jam. Kami mengerjakan sahur pada jam 03:45-04:20 pagi, kemudian azan Subuh berkumandang pada pukul 04:30. Selanjut nya waktu berbuka puasa pada pukul 19:30. Dengan lamanya waktu berpuasa itu, menjalani ibadah puasa menjadi tantangan yang tidak mudah bagi kami di sini.Betapa tidak, saat berpuasa, kami tak hanya menahan lapar dan dahaga semata, tetapi juga menahan hawa nafsu. Sebagai contoh, mahasiswa saya pernah bertanya mengapa umat Muslim harus berpuasa? Saat itu, saya menjawab, "Puasa itu menyehatkan jasmani dan rohani kami. Dengan berpuasa, alat-alat pencernaan kami beristirahat sejenak, tidak bekerja terus-menerus. Dengan berpuasa, kami diajarkan untuk menahan amarah dan merasakan penderitaan orang lain."Akhir kata, bagi saya dan istri saya, melaksanakan ibadah puasa Ramadan di Tiongkok menjadi sangat istimewa karena tidak semua orang bisa merasakan nya. Di Negeri Panda itu, kami juga memper kenalkan salah satu rukun Islam itu kepada mahasiswa kami yang umumnya menganut agama leluhur, yakni Buddha dan Taoisme. Di samping itu, kami juga dapat ber-silaturahim dengan sesama Muslim dari Tiongkok dan negara-negara lainnya. Selamat berpuasa Ramadan! (*) Editor : Administrator