20 TAHUN: Dalam usia memasuki angka 20 tahun, Teater Jubah Macan SMAN 3 Jogja menunjukkan kematangannya.
Berjuang Melawan Kekhawatiran
DALAM pementasan teater, kita enggak hanya diajak mengapresiasi tokoh, cerita atau peran dalam cerita yang disuguhkan. Tapi juga memberikan apresiasi ke seluruh kepanitiaan yang terlibat. Karena teater adalah kesatuan dari banyak unsure yang saling menopang. Hebatnya teater adalah bisa berkespresi di bidang seni rupa, musik, penulisan naskah, lighting, seni peran dan banyak lainnya.
Begitu juga dengan teman-teman SMAN 3 Jogja yang akhir pekan (9/5) mementaskan lakon teater di Taman Budaya Yogyakarta. Proses latihan selama empat bulan untuk mementaskan karya berat William Shakespeare berjudul The Tempest itu enggak sia-sia. Teater Jubah Macan SMAN 3 mampu memukau penonton dan membuat bangga keluarga besar Padmanaba –sebutan untuk SMAN 3 Jogja.
Lakon teater yang naskahnya ditulis lagi oleh Agnes Galuh Sekar Langit Boru Simamora itu disuguhkan dengan bagus oleh teater Jubah Macan yang telah berusia 20 tahun. Dan The Tempest merupakan pementasan mereka yang ke 55.
Pementasan berdurasi kurang lebih tiga jam itu disuguhkan bukan dengan mudah. Kerja keras dan perjuangan melawan kekhawatiran mewarnai proses tersajikannya lakon tersebut. Koreografer Madha lebih cenderung ke dance dituntut bebas bereksplorasi .
Kurang seminggu pementasan, ada pemain yang mengalami kecelakaan hingga harus di jahit mulutnya. Ada yang suaranya habis dan banyak rintangan lainnya. Namun sutradara Meyrinda Ayu Hayuningtyas mampu membawa perahu mengarungi samudra cobaan yang menghadang mereka.
Sukses Jubah Macan SMAN 3 Jogja juga tak bisa dilepas dari besarnya konstribusi tim musik dari SMKN 2 Kasihan Bantul atau Sekolah Menengah Musik (SMM) Jogja. Karena para musisi Padmanaba menyatu bersama para siswa SMM.(rin/man/ong)
Editor : Administrator