Maju
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berartiSudah itu mati.
SAYUP-SAYUP terdengar bait-bait puisi itu dibacakan dalam suasana nyaman dan sendu di Dongeng Kopi. Sebuah café dengan konsep rumah yang dipenuhi buku. Mereka yang datang enggak sekadar pengunjung biasa yang nongkrong untuk ngobrol. Mereka adalah para pecinta puisi yang tergabung dalam komunitas Puisi Indo Jogja.Sedikitnya ada sekitar tiga puluh orang yang pada Selasa (28/4) malam itu datang ke café yang ada di jalan Wahid Hasyim Gorongan, Depok, Sleman. Mereka hadir untuk mengekspresikan diri dengan mem-baca karya-karya sastrawan besar era 45, Chairil Anwar.Berdiri awal Desember dua tahun silam, komunitas ini selalu mengadakan acara berkaitan fiksi dan puisi dengan tajuk Samudera Kata. "Malam ini adalah Samudera Kata 45, yang berarti kami sudah mengadakan acara ke 45 sejak dua tahun lalu berdiri. Samudera Kata biasanya diadakan dua minggu sekali," terang Kiki Ramadhani, ketua komunitas.
Menurut Kiki, keberadaan komunitas pecinta puisi ini tak lepas dari peran teman-teman Stand Up Indo Jogja. "Dari komunitas Stand Up Indo Jogja itu ada beberapa orang yang suka baca dan bikin puisi. Mereka akhirnya berpikir untuk membuat komunitas mewadahi orang-orang yang juga suka puisi. Entah sekadar ngobrol, menulis, sampai membaca. Yang penting ada wadahnya," papar Kiki.Puisi Indo Jogja merupakan komunitas terbuka, mereka enggak mengikat anggotanya. Maka untuk pengurus komunitas hanya berisi empat orang. "Kami kan komunitas yang membicarakan sastra dan puisi. Jadi semua orang bebas gabung. Konsep ini justru bikin orang enjoy dan seneng. Akhirnya setiap acara pun jadi ramai," katanya.
Komunitas enggak hanya ngadain baca puisi, tapi juga membahas buku, karya penulis-penulis besar. Selain itu juga mengadakan diskusi untuk mendorong anak-anak muda mau membiasakan diri membaca dan menulis sastra dan puisi."Kebanyakan anak muda sekarang malu mengekspresikan diri. Misal, yang bisa menulis puisi, malu buat membaca dan menunjukan karyanya. Akhirnya puisi hanya jadi tulisan yang disimpen aja. Kami ingin menjadi wadah mereka untuk mau membuka diri dengan berani menunjukan diri dan mengapresiasi karya mereka sendiri."Saat ini sepuluh anggota Puisi Indo Jogja sedang dalam proses membuat buku kumpulan puisi. Kiki sendiri merupakan orang kedua yang berhasil membuat buku. Buku miliknya berjudul Memorabilia. Sebuah buku puisi bertema kenangan. "Mencintai sastra dan puisi itu penting. Dengan mengenal sastra kamu juga berkenalan dengan budaya dan sejarah sebuah bangsa. Jadi mulailah membaca, menulis, dan menunjukan karyamu pada dunia," pesan Kiki. (ata/man/ong) Editor : Administrator