Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Punya Aset Pertokoan, Pasar Kuliner dan GOR

Administrator • Sabtu, 4 Oktober 2014 | 11:01 WIB
Photo
Photo

Desa-Desa Terkaya di DIJ, Berapa Pendapatan dan Pengelolaan Keuangannya? (2)

Desa-desa di daerah pinggiran Kota Jogja kini berkembang menjadi daerah dengan perekonomian pesat. Pendapatan dan aset yang dimiliki cukup besar. Tidak mengherankan jika di desa-desa yang masuk wilayah Kabupaten Sleman ini mampu membuat kebijakan yang berbeda dari desa-desa lain.
HERI SUSANTO, Sleman
SUASANA Balai Desa Caturtunggal, Ke-camatan Depok, Kabupaten Sleman, sa ngat mencolok perbedaannya dengan desa-desa lain. Di balai desa, setiap hari hampir selalu penuh dengan masyarakat yang meng-urus berbagai administrasi.Kepala Desa Caturtunggal Agus Santoso mengungkapkan, di balai desa setiap tahun-nya minimal ada 250 warga yang mengurus surat-menyurat maupun keperluan yang lain. "Paling sepi ada 250 surat dan berkas yang harus saya tandatangani," tandas Agus ketika ditemui Radar Jogja, kemarin (2/10).
Ia mengatakan, dengan jumlah warga 64 ribu jiwa, Caturtunggal termasuk desa yang padat penduduk. Ini otomatis berdampak pada pengurusan berkas-berkas kependu-dukan. "Itu belum warga yang tinggal di sini tapi ber-KTP di luar Caturtunggal," ujarnya.Dengan jumlah penduduk yang besar ini, tugas berat menanti ketua RT, RW, dan du-kuh di Caturtunggal
Sebab, bakal banyak penduduk yang mengurus hal-hal berhu-bungan dengan kewarganega-raannya."Tugas RT berat. Mereka tak hanya bertugas administratif saja. RT juga berkewajiban un-tuk memastikan kondisi wilayah-nya," imbuh Agus.Selain itu, saat warganya me-miliki hajat maupun lelayu, oto-matis RT menjadi orang pertama dari perwakilan pemerintah yang harus turut mengurusnya. Inilah yang kemudian membuat pe-merintah desa (pemdes) Catur-tunggal kemudian memberikan insentif bagi RT.
"Ada bantuan dari pemkab dan pemdes. Setiap RT mendapatkan bantuan Rp 500 ribu per tahun," ujarnya. Insentif itu, menurut Agus, hanya sebagai uang lelah saja. Uang pengganti bagi RT saat mengurus administratif warga maupun kepentingan warga yang lain. "RT adalah pengabdian. Biar tidak banyak tomboknya, kami berikan insentif," kelakar-nya.Desa Caturtunggal memiliki anggaran yang cukup besar. Pe-masukan dari sewa tanah kas desa dan pengelolaan aset pem-des lain mampu meraup Rp 4 miliar per tahun. Inilah yang kemudian membuat pemdes setempat bisa leluasa dalam membuat kebijakan.
Soal menaikkan pendapatan desa, Agus menegaskan, hal itu tergantung dari pemimpin atau kepala desa. Baginya, seorang kepala desa harus mampu meng-gali potensi yang ada sehingga bias mendapat pendapatan bagi desa.Inilah yang kemudian mem-buat Caturtunggal termasuk desa kaya di DIJ. Sebab, seperti Sinduadi, desa ini dalam 20 ta-hun ke depan juga berpeluang memiliki aset-aset ekonomi yang kini masih dalam masa sewa. "Ada pertokoan, pasar kuliner, dan GOR Klebengan," jelas Agus.Dari seluruh aset-aset itu, Agus menegaskan, baru 17 tahun sampai 20 tahun ke depan bisa menjadi aset desa. "Sekarang masih masa sewa. Ke depan, aset-aset itu bisa menjadi milik desa dan dikelola desa," tandas-nya. (*/laz/gp) Editor : Administrator