Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

4000 Hektar Sawah Terancam Kekeringan

Editor News • Jumat, 5 September 2014 | 15:54 WIB
KULONPROGO - Lebih dari 4000 hektar sawah yang meliputi wilayah Kecamatan Kalibawang, Nanggulan, Sentolo, Lendah, Galur dan Panjatan yang tengah memasuki musim tanam (MT) II, terancam kekeringan. Kondisinya itu dimungkinkan semakin parah, karena debit air waduk Sermo sebagai penyuplai irigasi di keenam kecamatan itu mengalami penyusutan. "Wilayah-wilayah itu memang berpotensi kekeringan, khususnya yang berada di ujung saluran irigasi," kata Bambang Tri Budi Harsono, Kepala Dinas Perkebunan Pertanian dan Kehutanan (Dispertanhut) Kulonprogo, kemarin (4/9).
Bambang mengimbau, untuk mengantisipasi gagal tanam, para petani di wilayah hulu aliran irigasi agar segera melakukan pengolahan lahan. Sehingga saat memasuki bulan Oktober, usia tanaman sudah cukup dewasa, dan tidak terlalu terpengaruh saat kekurangan air lagi.Sementara itu, dari pantauan Radar Jogja, volume air di Waduk Sermo di Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kulonprogo sudah mulai mengalami penurunan debit hingga dua meter. Jika tidak ada hujan, kondisi itu diperkirakan akan terus menyusut. Petugas Monitoring Waduk Sermo Prabowo Andriyanto menyebutkan, untuk saat ini debit air Waduk Sermo masih normal. Meski mengalami penyusutan, tetapi dengan pola operasional yang dijalankan, kondisinya masih cukup untuk menyuplai irigasi. "Saat ini, penurunannya sudah mencapai 1,8 meter lebih. Dan dalam beberapa hari kedepan, mungkin akan mencapai 2 meter dari posisi muka air maksimum (136,60 mdpl)," terangnya.
Prabowo menilai, posisi itu masih memungkinkan untuk pola operasional basah, artinya posisi air masih di atas normal, sehingga belum terlalu mengkhawatirkan, terlebih waduk masih berfungsi baik untuk pengairan sawah setidaknya hingga awal MT II bulan Oktober. "Saat itu memang sempat menjadi pertanda siaga kekeringan. Namun belum pernah masuk ke pola kering (pola pengairan di saat debit air waduk di bawah normal atau siaga kekeringan,red)," ujarnya.Dijelaskan Prabowo, secara teknis bangunan utama Bendungan Waduk Sermo masuk tipe urugan batu berzona dengan inti kedap air. Bendungan itu dibangun pada tahun 1994 dengan waktu pengerjaan selama 32 bulan. "Fungsinya sebagai suplesi daerah irigasi sistem Kalibawang dengan aeral 7.152 hektar yang merupakan interkoneksi dari beberapa daerah irigasi di Kabupaten Kulonprogo," jelasnya. Mengantisipasi kekurangan air pada saluran irigasi pertanian di Kulonprogo, pihaknya rutin melakukan koordinasi dengan Dinas Pengairan, Dinas Pertanian dan Gabungan Petani Pemakai Air (GP2A) setiap 15 hari sekali. "Untuk pengontrolan debit air di waduk berlangsung setiap hari. Ada petugas khususnya. Hasilnya sebagai bahan untuk melakukan koordinasi dengan dinas terkait dan GP2A," bebernya. (tom/jko) Editor : Editor News