Model Kuno, Empat Soko dari Kayu Jati Bulat
Editor News • Sabtu, 26 Juli 2014 | 15:27 WIB
BEBERAPA sudut bangunan masjid tersebut tergolong model kuno. Bagian-bagian bangunan jika diamati, berbeda dengan bangunan gedung-gedung modern. Di dalam masjid, terlihat fondasi dan empat tiangnya yang masih utuh sejak zaman dulu.Empat buah soko atau tiang di ruang utama berbahan kayu jati bulat, disangga cor adonan semen dan pasir. Bentuk asli tiangnya sebenarnya tanpa disangga cor beton. Penambahan itu untuk meninggikan struktur bangunan.Tidak hanya tiang. Model bangunannya terlihat berbeda. Yakni dengan fondasi tinggi sekitar satu meter di permukaan tanah. Tembok fondasinya merupakan lempeng batu kali yang ditata rapi. Dengan fondasi yang tinggi, menjadikan bangunan masjid terlihat tinggi.
Pada siang hari, masjid terlihat lengang tanpa banyak kegiatan. Ibadah dan kegiatan lain banyak dilakukan pada malam hari. Yakni berupa salat berjamaah, membaca Alquran, dan lainnya.Kini, sebagai imam di masjid tersebut, ada dua orang. Imam masjid saat ini dipegang Kiai Yaqub, 89, dan Drs Qodir, pensiunan pegawai negeri sipil (PNS).''Menurut informasi dari bapak saya, masjid ini merupakan bangunan tertua di Salaman. Disusul Masjid Mangundadi dan Mandiran,'' ungkap Kiai Yaqub yang merupakan warga RT 5, RW 3, Desa Kebonrejo, kemarin (25/7).
Menurut Yaqub, masjid tersebut dahulu kala dibangun secara gotong-royong oleh warga setempat. Semula, atapnya terbuat dari anyaman ijuk. Karena sudah lapuk dimakan usia, akhirnya diganti dengan genting. Tembok dalam masjid tersebut juga dilapisi keramik berwarnai hijau muda.Pensiunan guru SD ini merupakan generasi ketiga sebagai imam di masjid tersebut. Sebelum dirinya, imam masjid ini dilakukan kakek, yaitu Simbah Bahrun. Simbah Bahrum cukup lama menjadi imam. Simbah Bahrun bukan warga asli setempat. Beliau merupakan warga Desa Menoreh, Kecamatan Salaman.Pada 1925, kepala desa setempat meminta kakeknya menjadi imam masjid. Alasannya, waktu itu ada permintaan menghidupkan ukuwah Islamiyah di Desa Kebonrejo. Kepercayaan tersebut tentu saja diterima Simbah Bahrun. Beliau diberi kepercayaan itu, lantaran lulusan pondok pesantren di Jawa Timur.''Sebelum, saya tidak tahu siapa imam masjid ini,'' ungkapnya.Seiring waktu berganti, tugas sebagai imam masjid dilimpahkan ke anak Simbah Bahrun. Namanya, Kiai Akhmad Badawi. Pelimpahan tanggung jawab sebagai imam masjid diterima pada 1952. Kiai Akhmad Badawi juga cukup lama menjadi imam, sebelum akhirnya digantikan anaknya, yaitu Kiai Yaqub. (*/hes) Editor : Editor News