Suami, Istri, dan Anak Dimakamkan Satu Liang Lahat
Editor News • Sabtu, 12 Juli 2014 | 15:47 WIB
Sementara Felix Ade Santoso, 12, satu-satu korban selamat, menatap dengan pandangan nanar pemakaman keluarganya.Dengan luka di bagian wajah, Felix hanya bisa memandangi satu per satu orang-orang yang dicintainya dimasukkan ke dalam liang lahat dan diuruk tanah.Ia harus kehilangan ayah, ibu, juga adiknya pada sebuah kecelakaan maut. Felix diselamatkan warga Gatak Lamat dalam kecelakaan tersebut.Sebelum pemakaman,siswa Kelas VI SD Rejowiangun Utara ini juga sempat melihat ayah, ibu, dan adik-adiknya terjebak di dalam mobil yang terbakar hebat. Saat itu, mereka masih hidup dan sempat melambaikan tangan meminta tolong. Ia lolos dari maut setelah merangkak keluar dari jendela mobil bagian depan. Sementara mobil yang ditumpangi bersama keluarga dalam keadaan terbakar hebat."Waktu itu, aku pecah kaca jendela mobil, lalu melompat keluar," ungkap Felix lirih, kemarin (11/7).
Sebelum ke tempat pemakaman, Felix yang mengalami luka bakar pada bagian tengkuk, dahi, dan tangan dengan tegar ingin menyaksikan keluarganya disalati di Masjid Darussalam, Kampung Jaranan RT 5/ RW 7 Rejowinangun Utara, Magelang Tengah, Kota Magelang. Felix terlihat gontai berjalan menuju masjid dari rumah duka di Kampung Jaranan."Aku mau ke masjid, nganter (jenazah, Red) ke makam," pinta Felix kepada buliknya, Pariyani, 36. Felix lantas menuju masjid didampingi kerabatnya.Sementara itu, Pariyani, tante Felix, mengaku tidak merasa ada tanda-tanda atau firasat apa pun sebelum kepergian keluarga Felix. Pariyani yang merupakan adik kandung Iwan Santoso mengatakan, sebelum kecelakaan Felix dan keluarganya tengah berlibur ke rumah salah satu neneknya yang tinggal di Jogja."Tidak ada firasat apapun. Hanya sebelum pergi ke Jogja, kakak saya (Iwan Santoso, Red) tumben tidak pamit. Biasanya, dia pamit sama ibu dan bapak saya," ungkap Pariyani.
Pariyani mengetahui peristiwa nahas dari ibunya, beberapa saat setelah kejadian. Ibunya atau nenek Felix mengetahui peristiwa itu karena dihubungi cucunya."Felix ternyata hafal nomor HP neneknya. Ia nelpon menggunakan hape warga yang menolongnya. Ia bilang, kalau mobil ayahnya kecelakaan dan ia tidak tahu bagaimana keadaan ayah, ibu, dan adiknya. Ia sadar berada di rumah sakit saat ditolong warga," jelas Pariyani.Dikisahkan Pariyani, Felix dekat neneknya, Sutini, 63, dan kakeknya, Musiman,6. Ibu kandung Felix meninggal sejak Felix berusia satu tahun. Ayah Felix lantas menikah dengan ibu tirinya, Diah Nur Santi dan tinggal di Kampung Bayeman Kota Magelang. Sementara Felix tinggal dengan nenek dan kakeknya di Kampung Jaranan. "Mereka tidak satu rumah, tetapi hubungan mereka baik. Ibu tirinya juga sayang dengan Felix. Kalau Felix kangen, pasti main ke Bayeman, begitu juga sebaliknya," papar Pariyani yang merupakan warga Kampung Mirikerep Kota Magelang itu.Sebagai saudara, Pariyani selalu memberi motivasi pada Felix tetap tabah dan tegar menghadapi musibah tersebut. Pariyani tahu, peristiwa yang merenggut nyawa orang-orang yang disayangi itu tidak bisa lepas dari ingatannya.
"Saya tahu ini kejadian yang memilukan bagi Felix. Sejak bayi, ia kehilangan sosok ibu kandung. Belum lama menemukan kebahagiaan dengan keluarga baru, kini harus kehilangan lagi," ucap Pariyani.Di mata keluarga, Felix merupakan anak pendiam dan penurut. Ia juga mewarisi sifat ayahnya yang baik dan suka menolong. Menurut Pariyani, kepergian kakaknya ke Jogja dalam rangka membeli paket lebaran bagi karyawan dan sanak keluarganya.Ke empat jenazah diberangkatkan ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Nambangan dengan menggunakan dua ambulans, sekitar pukul 13.30. Satu ambulans sempat dua kali bolak balik, karena ke empat jenazah dimasukkan ke dalam tiga peti mati. "Jenazah almarhum Iwan dan Bilqis lengket. Kami putuskan memakamkannya dalam satu liang," ungkap Sugiyono, adik Iwan Santoso, di sela-sela pemakaman satu keluarga korban laka maut di Jembatan Kali Lamat, Muntilan, Kabupaten Magelang.(*/hes) Editor : Editor News