Salah upayanyadengan peningkatan kualitas dan kuantitas produk berkelanjutan melalui sertifikasi salak. Saat ini ada 17 kelompok yang memperoleh Sertifikat Prima 3. Selain itu, dua kelompok tersertifikasi organik. "Untuk sertifikasi global GAP masih dalam proses," lanjut bupati. Sri mendorong potensi budidaya salak pondoh terus ditingkatkan. Pada 2013, sedikitnya 23 kelompok petani salak telah meregistrasi kebun seluas 313 hektar. Lahan tersebut ditanami 537.388 rumpun yang tersebar di 1.090 kebun.
Pada 2013, produksi salak mencapai 70.376,61 kilogram. Tersebar merata di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Jumlahnya mencapai 68 persen dari total panen. Dua persen lainnya untuk memenuhi pasar internasional. Sisanya untuk pasar lokal. Menurut Sri, potensi salak merangkak naik setiap tahunnya. Ketua Asosiasi Petani Salak Pondoh Sleman Iskandar berencana menyusun sistem pengawasan terpadu untuk Indikasi Geografis (IG). IG adalah sistem penanaman salak pondoh yang memperoleh hak paten dari Kementerian Hukum dan HAM. "Tujuannya untuk membedakan salak pondoh Turi dengan daerah," jelasnya.
Sutono, 55, salah seorang petani salak berharap pemerintah bisa turut campur menjaga stabilitas harga produk. Terutama saat musim panen raya. Alasannya, harga berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. "Untuk menambah nilai guna, kami coba ciptakan produk olahan salak. Keripik, dodol, dan manisan," ungkapnya.(yog/din) Editor : Editor News