JOGJA - Tekanan terhadap Pelatih PSIM Jogja Jean Paul Van Gastel semakin menguat seiring rentetan hasil negatif yang dialami pada awal BRI Super League 2026/2027. Tagar #VanGastelOut ramai digaungkan di media sosial, sementara desakan evaluasi juga muncul melalui spanduk yang dibentangkan suporter.
Situasi itu kembali menjadi sorotan setelah PSIM kalah 1-2 dari PSM Makassar dalam laga pekan kelima di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Jumat (16/10) sore. Hasil itu membuat Laskar Mataram belum sekalipun meraih kemenangan dalam lima pertandingan awal musim ini.
Baca Juga: Suporter PSIM Audiensi dengan Manajemen, Berharap Laskar Mataram Bisa Segera Bangkit
Menanggapi tekanan, termasuk tagar #VanGastelOut itu, Van Gastel menganggap kekecewaan suporter sebagai hal yang wajar. Ia memahami hasil pertandingan menjadi sumber kekecewaan bagi pendukung yang menaruh harapan besar terhadap tim kebanggaannya.
"Saya pikir itu cukup normal. Jika setelah lima pertandingan Anda hanya meraih satu poin, wajar apabila suporter mulai marah dan kecewa," ujar Van Gastel dalam konferensi pers seusai pertandingan.
Pelatih asal Belanda itu menegaskan, kekecewaan yang dirasakan suporter bukan sesuatu yang asing bagi tim, termasuk bagi dirinya pribadi. Menurutnya, para pemain dan staf pelatih juga memiliki kekhawatiran yang sama terhadap situasi PSIM saat ini.
Van Gastel menyebut kecintaan suporter terhadap klub menjadi alasan di balik besarnya ekspektasi mereka. Karena itu, ia dapat memahami reaksi pendukung ketika hasil yang diraih tidak sesuai harapan.
"Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, kami punya kekhawatiran yang sama dengan suporter. Saya sepenuhnya paham perasaan mereka. Itu wajar karena mereka punya gairah dan kecintaan terhadap klub ini, sebagaimana kami juga mencintai klub tempat kami bekerja," katanya.
Lebih lanjut di tengah tekanan yang terus meningkat tersebut, Van Gastel mengaku dirinya juga memberikan tekanan besar kepada diri sendiri.
Ia mengatakan pekerjaannya sebagai pelatih menuntut banyak waktu dan pemikiran. Mulai dari menyusun latihan hingga mempersiapkan tim menghadapi pertandingan.
"Saya mungkin orang yang memberi tekanan lebih besar kepada diri sendiri dibanding siapa pun di klub ini. Saya bekerja keras sepanjang hari, bahkan rasanya seperti 26 jam sehari, karena pikiran saya selalu tertuju pada tim," ungkapnya.
Baca Juga: PSIM Jogja Kembali Kalah dan Gagal Bangkit, Van Gastel Soroti Dua Gol Serangan Balik PSM Makassar
Van Gastel menambahkan, pekerjaannya tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan latihan, tetapi juga mencakup berbagai hal yang harus dikelola selama menjalankan tugasnya di Indonesia. Meski demikian, ia menegaskan akan terus berusaha memberikan yang terbaik bagi klub dan para pemain.
"Pekerjaan saya cukup menantang dan padat. Saya melakukan yang terbaik yang saya bisa. Jika itu masih belum cukup baik, setidaknya saya bisa merasa tenang karena telah melakukan segala sesuatu dalam kemampuan saya untuk memberi yang terbaik bagi klub, tim, dan diri saya sendiri," tegasnya. (iza/laz)
Editor : Winda Atika Ira PuspitaSumber : Radar Jogja